ORANG KE3

Ketika kehadiran kita menjadi masalah untuk orang lain. Mungkin ini terkesan aneh, tapi kadang begitulah adanya. Kita ada di tempat dan waktu yang salah untuk orang lain, membuatnya terluka atau bahkan kecewa. Memang, segala sesuatu dalam hidup tak ada yang bisa tau apa yang akan terjadi. Mungkin saja kita tiba-tiba masuk dalam kehidupan seseorang di saat yang tak seharusnya, atau pun sebaliknya, dan itu kemudian membawa sebuah masalah baru baik untuk hidup orang lain atau malah hidup kita sendiri. Lalu apa yang salah? Bukankah itu mungkin sudah ketentuan Tuhan?

Benar, mungkin sikap kita yang salah. Tuhan sebenarnya menghadirkan kita dalam hidup orang lain dengan segala pilihan yang Dia sertakan. Mungkin kita yang memilih mengambil jalan yang tak tepat hingga akhirnya ujung jalan yang kita tuju pun bukan pada kebaikan.

Hal klise yang kadang hadir adalah adanya orang lain dalam hubungan pribadi yang bersifat sangat personal. Salah satunya dalam hal cinta, baik itu sebatas hubungan pacaran atau bahkan pernikahan. Adanya orang lain dalam suatu hubungan mungkin adalah sebuah cobaan yang Tuhan beri untuk meyakinkan kita pada ketetapan hati yang telah kita pilih. Kita mungkin hadir sebagai pihak ketiga atau bahkan ada orang lain yang menjadi pihak ketiga dalam hubungan itu.

Tulisan ini mungkin akan sedikit menyakitkan. Kenapa? Tentu saja tak ada orang yang ingin kehidupan cintanya berujung dengan perpisahan karena hadirnya orang lain. Sekali lagi pertanyaannya adalah benarkah Tuhan mengirim orang lain itu untuk masuk dalam hubungan percintaan hanya sebagai godaan atau malah Tuhan mengirim orang lain itu sebagai petunjuk yang nyata tentang siapa sebenarnya cinta yang Dia cipta untuk kita?

Lalu, ketika kita menjadi orang lain yang hadir? Apa yang kita sertakan? Akankah kita menganggap diri kita hanya sebagai godaan? Atau kita sangat yakin bahwa kita adalah orang yang tepat yang Dia cipta? Kalau begitu siapa yang berhak dan tak berhak?

Mungkin, semua akan sepakat bahwa seharusnya orang ketiga yang hadir itu sadar diri bahwa dia memasuki hubungan kehidupan pribadi orang lain yang mengakibatkan lahirnya rasa sakit dan penderitaan bagi orang lain. Bukankah orang lain tak kan hadir selama pintu tidak terbuka? Sekali lagi, siapa yang salah? Benar, keduanya salah. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan?

Menurut pendapatku, apapun itu tetap akan berpaling pada keyakinan dan kebahagiaan yang tercipta dari suatu hubungan itu sendiri. Dalam sebuah pernikahan, akan sangat komplek penyebab terjadinya perselingkuhan dan perceraian. Apa itu berarti keyakinan dan kebahagiaan yang hadir tidak benar-benar tercipta? Jawabannya, mungkin saja. Selama keyakinan pada apa yang telah kita pilih terjaga dan kebahagiaan yang kita rasa adalah kebahagiaan yang benar-benar menyentuh hati, maka kepercayaan dan kesetiaan akan selalu terjaga, godaan atau cobaan akan berlalu begitu saja.

Sedangkan pada tahap pacaran, mungkin itu hanyalah jalan sebelum hati kita benar-benar yakin untuk menasbihkan seseorang itu benar adanya sebagai pendamping hidup kita hingga akhir usia. Sebelum memutuskan menikah, tentu saja kita akan menghitung segala konsekuensi dan kompromi yang akan kita ambil kelak. Benarkah orang itu yang kita yakini untuk selalu menjadi pendamping hidup? Melewatkan semuanya dengan orang yang tepat? Atau kita masih ragu?

Bukankah semua hal selalu ada konsekuensi? Pertanggung jawaban? Apapun itu, selalu ada orang lain yang akan merasakannya, meski kadang kita berpikir hanya kita sendiri yang menjalaninya. Sakit atau penderitaan yang tercipta? Benarkah kita akan kuat menanggungnya? Sebelum terlambat, cobalah untuk meyakini dan cobalah merasakan kebahagiaan yang kita nikmati saat ini. Benarkah ini yang kita cari? Terlebih untuk mereka yang akan membina hubungan yang serius seperti pernikahan, mungkin ini akan menjadi hal yang sulit, tapi sebenarnya sangat mudah untuk dijalani. Untuk mereka yang sudah menikah, bukankah kita telah menetapkan keyakinan kita? Cobalah tengok kembali apa yang telah kita perjuangkan hingga hari ini ada seorang istri atau suami dan anak dalam kehidupan kita.

Orang ketiga mungkin saja sekedar godaan atau mungkin dialah sebenarnya yang Tuhan cipta untuk kita. Mungkin juga, kitalah yang sekarang jadi orang ketiga itu! Tulisan ini sangat sederhana, tapi mudah-mudahan jadi perenungan untuk mereka yang saat ini ada di antara keduanya. Semoga jalan yang kalian pilih adalah kebaikan untuk semua dan berjuanglah untuk apa yang kalian yakini. Amin.

Salam hangat,

Haries Budjana

Comentários:

Poskan Komentar

 
RENUNGAN JIWA © Copyright 2013 | Design By Haries Budjana |