6

AKU DAN IBUKU (kisah uang Rp 2000 & cincin imitasi)

Jujur dulu aku adalah anak yg durhaka.
Dulunya kami adalah sebuah keluarga yg harmonis, tapi semuanya berubah menjadi Broken Home & berantakan. Ibuku sakit, sementara Ayahku pergi meninggalkan kami. Neneku juga pindah tinggal kerumah bibiku. Ketiga kakaku pun pergi kedaerah lain utk mangadu nasip. Tinggalah aku berdua bersama ibuku.
Suatu pagi ketika hendak kesekolah aku marah2 ke Ibuku karena ibuku tak bisa memberikan aku uang buat jajan. Ibuku membungkuskan aku sebuah nasi buat bekal. Aku malah melemparkannya kemudian menghardiknya “aku ini anak SMA, butuh uang buat jajan bukan bekal nasi, malu & gengsi aku Bu kalo bawa nasi ke Sekolah!!“ Ibuku hanya diam dgn kesedihan yg amat dalam. Sementara aku tak peduli, kemudian dgn muka muak aku keluar rumah berangkat kesekolah naik motor temanku.
Disekolah sekitar jam 9pagi seorang perempuan tua berjalan tertatih menuju kelasku, perempuan itu adalah ibuku. Guru yg mengajar dikelasku langsung menghampiri ibuku didepan pintu & bertanya “cari siapa ya?
“Mau cari anaku, mau ngasih uang buat jajan, tadi ibu lupa memberinya uang jajan“ kata ibuku.. Lalu aku langsung keluar kelas & menghampiri Ibuku, ibuku memberi aku uang jajan 2000perak. Lalu ibu pulang jalan kaki & tertatih dgn tubuh sakit menempuh jarak yg sangat jauh. Aku hanya bisa menatapnya dgn perasaan yg tak menentu.
Setelah aku selidiki ternyata uang jajan yg diberikan ibuku berasal dari hasil jual beras yg tersisa.. (Itu lah pertama kali aku meneteskan air mata)

Singkat cerita aku menamatkan SMA ku. Aku berangkat ke Bandung melanjutkan pendidikan & pekerjaan. Tak mungkin aku meninggalkan Ibuku sendirian dirumah. Kemudian aku menitipkannya dirumah bibiku. Masih terlintas jelas dibenaku detik2 sebelum aku berangkat. Ibu memeluku, menangis sambil berkata terisak 'sebenernya ibu tak mau berpisah dgn mu, tapi ini semua sudah keputusanmu, pergilah.. Slmt jln anaku, ketika lebaran tlah tiba pulanglah, ibu pasti merindukanmu.. Pesan ibuku diiringi derai air mata. Kemudian aku memasukan cincin imitasi yg dibikin dari uang recehan limaratus yg berwarna kuning kejari manis ibuku. Cincin imitasi itu tlah lama aku persiapkan. Soalnya aku kasihan melihat ibuku. Sebagai seorang wanita tak satupun perhiasan yg melekat ditubuhnya. Kemudian aku berbisik `ini hanya cincin imitasi Bu.. Sepulang dari Bandung aku akan membelikan ibu cincin emas` kemudian aku melangkah pergi..

Aku pun telah tiba di Bandung. Tinggal menumpang dirumah saudaraku. 1thn kemudian lebaran pun datang tapi aku tak pulang kampung. Lebaran kedua aku juga masih dibandung..
Pada suatu ketika aku sangat merindukan ibuku & berniat pulang kampung, tapi semua saudara2ku melarangku dgn alasan tanggung, nanti aja lebaran. 1minggu kemudian semua saudara2 & sanak familiku berkumpul menunggu kehadiranku. Setelah aku hadir Om ku berkata `malam ini juga kamu berangkat ke jakarta kemudian paginya dari Bandara kamu langsung terbang kekampung`
”Apa yg terjadi?? Tanyaku heran..
Kemudian Om ku menjawab dgn tenang ”ibumu sakitnya tambah parah, dia sangat merindukanmu”
Dgn perasaan campur aduk malam itu juga aku langsung berangkat kejakarta, pagi2 dibandara aku langsung terbang kekampung halamanku..
Pesawatpun mendarat disebuah bandara di Padang. Dari Padang aku naik taksi ke kampungku Payakumbuh.
Akhirnya aku sampai juga dikampungku. Ternyata dikampungku org2 sangat ramai sekali, sebuah bendera kuning juga terpasang dipinggir jalan. Seketika kakiku gemetar saat mau keluar dari taksi. Aku langsung masuk kerumah, aku langsung pingsan begitu melihat Ibuku telah terbujur kaku dipanggil Allah SWT.
Setelah aku siuman, bibiku langsung memeluku kemudian dia berkata “Ibumu telah meninggal kemaren sore, kami sengaja belum memakamkannya karena pesan ibumu sebelum meninggal, jgn makamkan dia dulu sebelum kamu melihat jenazahnya utk terakhir kalinya“
“Dgn tetesan air mata kemudian aku berkata “lalu kenapa Om yg dibandung mengatakan kalo Ibu hanya sakit bukan meninggal?
Lalu bibiku menjawabnya “tak mungkin Om mu akan mengatakan yg sejujurnya, Om mu takut kamu makin sedih“
Tak lama berselang neneku datang memberikan sebuah cincin kepadaku “sebelum ibumu meninggal dia menitipkan cincin ini untukmu, kata dia ini dulu cincin pemberianmu, dia berpesan berikanlah cincin ini suatu saat nanti kepada wanita yg bener2 kamu sayang..“ Kata neneku dgn suara lirih..

*maaf kalo ceritanya terlalu panjang, tapi ini pengalaman hidupku, fakta bukan mengada2 & bukan kisah sinetron, semoga bisa diambil pesan moralnya*
*satu2nya yg bisa membuatku meneteskan air mata adalah ketika aku merindukan Ibuku*

" SELAMAT HARI IBU "


~Hario Zones~

Selengkapnya...
0

Julie Andrews’s Note (Episode 8)

Julie tersadar dari lamunannya ketika ponselnya berbunyi.

“Halo, Bill. Ada apa?”

“Kau di mana, Jules?”

“Aku ada di Longshore Café, tak jauh dari kantor. Ada apa?”

“Kau tunggu saja. Aku akan menemuimu di sana,” jawab William yang langsung mematikan sambungan telepon.

Julie terheran – heran. Kejutan apa lagi yang sedang menantinya hari ini? Seperti belum cukup pertemuan dengan Tiffany membuatnya sakit kepala.

Sekitar sepuluh menit kemudian William tiba di kafe dan langsung menuju meja tempat Julie duduk.

“Kau mungkin tidak akan percaya apa yang baru saja aku dapat,” ujar William.

“Oh, Tuhan. Kejutan apa lagi ini?” Julie menangkupkan kedua tangan untuk menutupi wajahnya.

“Ada apa, Julie?”

“Tidak. Kau duluan saja. Apa yang kau dapat?”

William mengambil ponsel dari saku jasnya. Ia menekan tombol ponsel beberapa kali, lalu menyerahkan ponsel itu kepada Julie. Rupanya William hendak menunjukkan sebuah rekaman video kepada Julie.

Untuk beberapa saat, Julie tidak mengerti. Apa maksud William memperlihatkan rekaman itu kepadanya. Rekaman itu hanya menayangkan suasana sebuah klub malam. Hiruk pikuk musiknya membuat telinga Julie sakit.

Namun secara tiba – tiba air muka Julie berubah. Tak lagi menampakkan wajah bingung, tapi raut wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya. Dan dari bibirnya hanya terucap satu kata.

“Steve?”

William sepertinya sudah menebak reaksi Julie. Perlahan ia mengambil ponselnya dari tangan Julie.

“Dari mana kau dapatkan rekaman itu?” tanya Julie.

“Kau tahu wanita tua yang menjaga kantin di kantor kita?”

“Brooke Smith,” jawab Julie lemah.

“Yap. Aku mendapatkan rekaman itu dari Nyonya Smith. Anaknya yang merekamnya. Kebetulan anaknya sedang berada di klub tadi malam untuk menghadiri sebuah pesta ulang tahun.”

“Tadi malam?!” tanya Julie.

“Ya. Tadi malam.”

“Berarti benar dugaanku.”

“Dengarkan aku, Jules. Aku bukannya ingin menambah runyam hubunganmu dengan Steve. Pun bukan maksudku agar kalian berpisah. Tapi ini fakta, Jules. Pria itu sudah tidak mencintaimu lagi.”

“Entahlah, Bill. Aku sedang tidak bisa berpikir sekarang. Belum ada setengah jam yang lalu, Tiffany meninggalkan kafe ini dengan sebuah teka – teki yang ia berikan kepadaku.”

“Tiffany? Kau bertemu dengan Tiffany? Apa yang kalian bicarakan?”

“Yah, seperti biasa. Sebuah pembelaan. Bahwa ia tidak terlibat apa – apa dalam kasus penembakan ini. Tapi di akhir pertemuan ia malah mengatakan sesuatu yang membuatku tambah pusing. Ia bilang, jika ia katakan siapa pelaku penembakan ayahnya, aku mungkin tidak akan percaya.”

“Dia… apa?”

“Aku tidak akan mengulang perkataanku, Bill. Kau terjemahkan sendiri. Aku akan pergi sebentar.”

Julie meninggalkan mobilnya di depan Longshore Café. Dan ia sendiri memilih berjalan kaki. Ia belum punya tujuan pagi itu. Ia hanya membiarkan kaki jenjangnya melangkah menembus keriuhan kota san Francisco. Tanpa ia sadari, lagi – lagi William membututi langkahnya.

Langkah Julie terhenti di depan gerbang taman kota. Sejenak ia tampak ragu, apakah akan meneruskan langkahnya memasuki taman itu. Dan akhirnya, ia memang melanjutkan perjalanan ke dalam taman kota.

Di tepi sebuah danau kecil, Julie berdiri dan memandang jauh ke depan. Ia menarik napas panjang berkali – kali, seolah hendak membuang jauh beban yang kini bertengger di pundaknya. Lalu ia melepas sepatu high heel hitam yang sedari tadi pakai. Ia bertelanjang kaki menuju tepian danau dan duduk di sana.

“Seharusnya kau kemari dengan mengajak seseorang, Jules.”

Julie terkejut. Ternyata William sudah berada di sampingnya lagi.

“Bill. Tidak bisakah kau berhenti membututiku? Oh, God!!! Aku bisa gila karena ulahmu!!!”

“Tenanglah, Jules. Aku tidak akan mengganggumu. Anggaplah aku tidak berada di sini.”

“Yeah…. It sounds weird.”

“Hahahaha…. Aku tahu kau akan mengatakan kalimat itu. Kalimat yang sudah lima belas tahun tak pernah mampir ke gendang telingaku.”

“Bill….”

“Ya….”

“Aku minta maaf. Aku telah meninggalkanmu malam itu. Aku tidak punya pilihan lain saat itu. Kau yang membuatku harus meninggalkanmu.”

“Sudahlah, Jules. Itu salahku juga. Aku tidak pernah bisa menghargai apa yang sudah kau berikan padaku. Seharusnya aku yang minta maaf kali ini.”

“Baiklah. Anggaplah kita sudah impas sekarang. Kita tidak perlu mengungkit masa lalu.”

“Ya, aku setuju. Dan… bagaimana dengan Steve?”

“Jujur saja, Bill. Aku masih tidak percaya dengan apa yang tadi aku lihat. Aku masih menyangkal bahwa Steve sebenarnya ingin menjauh dariku. Dan aku masih menganggap Steve masih mencintaiku saat ini. Entahlah, Bill. Bahkan aku pun menganggap semua itu tidak masuk akal. Aku seperti bermimpi ketika melihatnya bersama Kate Nolan.”

“It wasn’t dream, Jules.”

“Apa maksudmu?”

“Ya, aku pun melihatnya. Jadi kau tidak sedang bermimpi. Aku juga pernah melihat Steve bersama Kate Nolan.”

“Oh, God….”

Julie menunduk dan air mata mulai membasahi pipinya.

“Jules….”

“Tinggalkan aku sendiri, Bill. Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun. Kau katakan saja pada Steve di kantor, bahwa aku ada urusan lain. Siang nanti, aku akan menghubungimu lagi.”

“Jules…. Benar kau tidak apa – apa?”

“Iya, aku baik – baik saja. Sekarang tolong biarkan aku sendiri, Bill.”

***

Pagi yang cerah di awal bulan Juli. Musim panas sudah mulai sejak beberapa hari yang lalu. Taman kota dipenuhi orang – orang yang bersantai menikmati suasana musim panas. Di antara kerumunan manusia penduduk San Francisco, ada dua orang yang sedang duduk di bangku taman sambil bercakap – cakap. Satu orang pria dan satu lagi wanita.

Keduanya nampak seperti kebanyakan orang, pakaian mereka tidak terlalu mencolok, bahkan si wanitanya sama sekali tidak memakai riasan. Namun siapa sangka, ternyata keduanya sedang berbincang tentang satu hal yang teramat penting. Dan itu menyangkut nasib satu orang lainnya.

“Aku salut dengan hasil kerjamu,” ujar si wanita.

“Ah, aku hanya membantumu. Selebihnya, kaulah yang bertindak,” sahut si pria.

“Yeah. Tapi tanpamu, aku tidak bisa menjangkau pria tua bangka itu,” sahut si wanita lagi.

“Rencana kita memang berjalan sesuai harapan. Aku benar – benar tidak menyangka gadis itu begitu bodoh bisa terperangkap jebakan kita.”

“Aku tidak heran akan hal itu. Aku sudah pernah terlibat sebuah pekerjaan dengannya. Dan dengan beberapa kali bertemu, aku sudah bisa menebak kalau dia memang gadis yang bodoh.”

“Kadang aku merasa kasihan dengan gadis itu.”

“Coba saja pertahankan rasa kasihanmu padanya, maka aku jamin kau tidak akan pernah menikmati hasilnya.”

“Oke… oke…. Lantas apa rencanamu selanjutnya?”

“Selepas ini, aku akan bertindak sendiri. Tugasmu sudah cukup sampai di sini. Aku akan menghubungimu lagi jika aku membutuhkanmu. Sekarang pergilah, sebelum orang lain mulai curiga dengan keberadaan kita.”

“Baiklah, aku pergi. Kau, jaga dirimu baik – baik.”

Karya: Sekar Mayang
Selengkapnya...
0

Julie Andrews’s Note (Episode 3)

Julie dan William keluar dari kantor polisi. Mereka tidak langsung ke kantor, tapi malah kembali ke kedai yang tadi mereka datangi.

“Kasus yang berat,” ujar William.

“Berat karena Alicia seorang aktris,” sahut Julie. “Kalau memang ia melakukannya, tamatlah karirnya.”

Julie memesan kopi dan sepiring kecil pancake dengan topping madu. Ia menyesap kopi itu, lalu dengan santainya memakan pancake yang masih hangat.

“Julie. Kau baru saja makan siang dan sekarang kau makan pancake. Kau tidak takut kalori menumpuk dalam tubuhmu?”

“Diamlah, tutup saja mulutmu. Aku sedang tidak ingin berdebat soal selera makanku. Kau pasti masih ingat kalau nafsu makanku bertambah jika aku sedang stress.”

“Tidak,” sahut William dengan keheranan. “Aku tidak ingat hal itu. Apa kau benar – benar sedang stress, Julie?”

“Oh, great! Ini sangat konyol. Aku baru saja mempertontonkan ketololanku kepadamu.”

“Hahaha…. Sudahlah, Julie. Kau tidak perlu menjaga citramu di depanku. Bagiku, kau masih Julie yang dulu. Aku tidak akan menyimpan dendam itu walaupun kau pergi meninggalkan aku.”

“Jadi kau ingin membongkar masa lalu kita, Bill? Itukah yang kau inginkan sebenarnya ketika memutuskan pindah kemari? Apa kau tidak bisa menemukan wanita lain selain aku, Bill? Dan kau masih saja memuja minuman beralkohol itu. Bahkan fakta itu bisa berhembus dari New York ke San Francisco.”

“Julie. Bukan itu maksudku.”

“Lalu dari mana kau mengenal suamiku? Maksudku, dari mana kau tahu kalau aku sudah menikah dengan Steve Howard, yang merupakan pemilik firma Howard and Friend?”

“Julie. Aku benar – benar tidak mengerti pertanyaanmu. Tapi akan kucoba untuk menjelaskan hal ini padamu.”

Willliam berhenti sejenak untuk menarik napas panjang.

“Aku dipecat dari firmaku di New York,” lanjut William.

“Apa?! Dipecat?”

“Ya. Rupanya atasanku sudah bosan memiliki anak buah yang hobinya mabuk. Puncaknya adalah ketika salah satu dari mereka memergoki aku sedang membawa wanita malam untuk menginap di hotel. Keesokan harinya, aku langsung dipecat.”

“Oh, Bill. Benarkah itu?”

“Ya, itu benar.”

“Berarti kau bodoh.”

“Julie. Aku tidak tahu ada apa denganmu? Tapi, sejak kapan kau mulai berubah? Nampaknya sekarang kau dengan mudahnya mengucapkan kata bodoh dalam setiap kalimat.”

“Well, ternyata benar apa yang dikatakan Alicia tadi.”

“Apa itu?”

“Kau sudah berubah menjadi Tuan Sok Tahu. Apa yang kau lihat sehingga berani menuduhku telah berubah? Kau tidak tahu apa – apa, Bill. Jangan merasa kau terlalu mengenalku sekarang. Julie yang berumur delapan belas tahun sudah tidak sama lagi dengan Julie yang sekarang ada di hadapanmu.”

“Oh, maafkan aku, Julie. Aku tidak berniat mencampuri urusanmu. Aku hanya melihat sepertinya ada sesuatu yang terjadi padamu. Aku tak tahu apa itu. Tapi…, ah, sudahlah.”

Keduanya terdiam. Julie sibuk menghabiskan sisa kopi di cangkir. Sementara William hanya bisa memandang wanita di hadapannya dengan rasa heran yang menumpuk.

William merasa, Julie memang sedang ada masalah. Jadi, apakah benar soal gosip yang beredar di luar bahwa Steve Howard adalah seorang playboy? Jika melihat perilaku Julie sekarang, nampaknya hal itu memang benar, pikir William.

“Sudah pukul lima. Kau mau aku antar kembali ke kantor?” tanya Julie.

“Oh, tidak perlu. Aku langsung pulang saja,” jawab William.

“Kau tinggal dimana sekarang?”

“Tak jauh dari sini. Sekitar lima blok. Redleaf Building.”

“Baik. Aku akan mengantarmu pulang.”

Julie bangkit dari duduknya lalu meninggalkan dua lembar sepuluh dolar di meja. William mengikutinya dari belakang.

Setengah jam kemudian, mereka sampai di depan apartemen William.

“Kau mau mampir dulu, Julie?”

“Lain kali saja, Bill,” jawab Julie. “Hmm…, soal perkataanku di kedai tadi. Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya. Aku hanya terlalu lelah dengan pekerjaan sehingga banyak meracau seperti tadi.”

“Tidak apa – apa. Aku bisa mengerti itu. Lain kali kita bisa bicarakan hal itu. Julie…. Aku masih temanmu. Kalau kau sedang menghadapi masalah, apapun itu, aku harap kau bisa ceritakan padaku. Mungkin aku tak bisa menyediakan solusi buatmu. Tapi paling tidak, aku bisa mendengarkan.”

“Terima kasih, Bill,” sahut Julie sambil tersenyum. “Aku akan pertimbangkan hal itu.”

William turun dari mobil dan berlalu menuju gedung apartemen.

Sementara itu, Julie masih belum menjalankan mobilnya. Ia mengambil ponsel dan menekan speed dial untuk nomor Steve.

“Halo, Steve. Kau masih di kantor?”

“Tidak, aku sudah keluar dari kantor, sayang. Tapi aku belum bisa pulang ke rumah. Ada seorang klien yang mengajak bertemu di restoran sambil membicarakan kasusnya. Kau tahu, Robert Smith, dari perusahaan kosmetik Glamms. Kau pulanglah dulu.”

“Baiklah. Sampai jumpa di rumah.”

“Hey, Julie. Bagaimana pertemuan dengan Alicia Jensen tadi?”

“Seperti biasa, masih abu – abu. Kita bicarakan nanti di kantor.”

Julie memutuskan sambungan telepon. Tapi ia pun masih belum ingin menjalankan mobilnya. Ia masih membuka fitur GPS di ponselnya. Ia ingin melacak keberadaan Steve. Apakah benar Steve sedang berada di restoran seperti yang baru saja dikatakan?

Titik yang kelap – kelip di layar ponsel Julie sudah berhenti di satu tempat. Rasanya Julie tahu dimana alamat itu. Ia lalu menjalankan mobilnya menuju tempat itu.

(to be continued)

gambar nyomot di google

Karya: Sekar Mayang

Selengkapnya...
0

[Ramen] Mbak, Kita Menyayangi Pria yang Sama

Oleh: Sekar Mayang (no.12)

Aku melihat Putri sudah duduk di bangku taman tak jauh dari tempatku berdiri. Ia belum melihatku karena aku sengaja berdiri di balik rerimbunan pohon. Lagipula, ia belum mengenalku. Jadi sekalipun ia melihatku, ia tak akan bereaksi.

Putri adalah seorang gadis yang cantik. Ia jauh lebih muda dariku. Mungkin sekitar enam tahun di bawahku. Kulitnya putih dan posturnya proporsional. So far, I can say that she’s perfect. Tapi aku belum mengenalnya lebih jauh. Ini pertemuan pertama antara aku dan dia.

Aku mengenal Putri dari sebuah situs pertemanan. Akulah yang pertama kali mengirim request untuk berteman dan dalam beberapa menit saja, ia langsung menerimaku sebagai temannya. Ia adalah teman Rio. Dan sepertinya tak bisa begitu saja aku sebut sebagai teman biasa.

Bagaimana aku bisa tahu hal itu? Tentu saja Rio sendiri yang mengatakan padaku. Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Karena aku pun dekat dengan Rio ketika dirinya telah bersama orang lain.

Putri melihatku dan sepertinya ia mulai curiga. Jadi aku berinisiatif untuk menghampirinya yang masih terduduk di bangku taman. Ketika tinggal beberapa langkah lagi jarakku dengan dirinya, ia beranjak dari duduknya seolah ingin menyambutku. Tapi yang ia lakukan hanya menunjukkan raut wajah penasaran.

“Mbak Vania?” tanyanya.

“Iya,” jawabku berusaha ramah.

“Aku Putri, Mbak.”

“Aku tahu. Aku sudah mengamatimu dari kejauhan sejak kau tiba di bangku taman ini setengah jam yang lalu.”

Mendengar jawabanku, Putri langsung tertunduk malu. Ia nampak canggung. Tanpa ia persilahkan, aku langsung duduk di bangku taman yang nampak sudah pudar catnya. Dan ia pun mengikuti apa yang kulakukan.

Lama kami terdiam, hanya riuh kicauan dari segerombolan burung gereja yang terdengar. Aku sengaja tidak memulai pembicaraan. Aku menunggunya mengatakan sesuatu.

“Apa kabarmu, Mbak?”

Akhirnya Putri angkat bicara.

“Kabarku baik. Bagaimana denganmu sendiri?” tanyaku sambil tetap berusaha bersikap ramah.

“Aku juga baik – baik saja, Mbak,” jawabnya.

Lagi, hening menguasai percakapan kami. Dan aku sangat tidak tahan dengan situasi canggung seperti ini.

“Putri. Listen to me! Aku tidak punya waktu banyak sore ini. Jadi katakan saja apa yang hendak kau sampaikan padaku.”

“Aku… aku….” Putri jadi tergagap.

“Oh… oke…. Mungkin aku terlalu kasar padamu. Tapi aku bukanlah orang yang hendak menjauhkanmu dari Rio. Kau paham maksudku, kan?!”

“Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan soal Rio pada pertemuan kita kali ini, Mbak.”

“Lantas apalagi kalau bukan soal dia?”

“Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat lagi, sebagai sahabat, bukan sebagai rival untuk mendapatkan hati Rio. Aku juga tahu, Mbak, Rio dekat dengan banyak wanita.”

“Putri….”

“Ya, Mbak….”

“Aku tidak mengerti maksud perkataanmu.”

“Mbak…. Kita menyayangi pria yang sama. Dan rasa sayang kita itu sebenarnya tidak pada tempatnya.”

“Oke…. Aku paham kalimat terakhirmu. Tapi aku tidak mengerti kalimatmu yang sebelumnya.”

“Kalimat yang mana, Mbak?”

“Begini saja, Putri. Aku rasa kau salah paham soal kedekatanku dengan Rio. Aku mengenal Rio jauh sebelum kau mengenalnya. Dan memang benar aku dekat dengan Rio, tapi itu tidak seperti yang kau bayangkan sebelumnya. Aku dan Rio hanya berteman, tidak lebih. Jadi silahkan saja jika kau ingin mendapatkan perhatian lebih dari Rio. Aku tidak akan melarangmu.”

Ah, aku berbohong lagi kali ini. Aku tidak tahu, apakah Putri percaya atau tidak pada kata – kata yang baru saja kulontarkan. Jujur, aku tidak peduli itu.

***

Mbak Vania di mana sekarang? Aku sudah di taman kota sekarang. Aku duduk di bangku taman, tempat yang Mbak katakan tempo hari. Ini sudah lewat dari jam empat sore, sudah lewat dari jam yang kita sepakati kemarin. Apakah Mbak benar – benar tidak bisa datang? Tolong kabari aku secepatnya.

Isi pesan singkat itu masih terpajang di layar ponselku. Sudah lima belas menit yang lalu aku menerima pesan itu. Aku belum membalasnya, dan sepertinya tidak berniat untuk membalasnya.

Aku masih berdiri di tempat yang sama, di dekat rerimbunan pohon di salah satu sudut taman kota. Aku masih melihat sosok gadis di bangku taman itu. Sosoknya yang sedang cemas menanti kedatanganku. Aku ingin sekali menghampirinya dan mengatakan banyak hal kepadanya. Bahwa aku tidak sekedar menyayangi Rio. Aku memang mencintainya dan menginginkan pria itu hanya untukku, walaupun itu menjadi keinginan yang sangat absurd. Aku pergi menjauh dari rerimbunan pohon, dan menjauhkan pandanganku dari sosok gadis itu.

Aku berjalan menuju tepian danau yang ada di areal taman kota. Danau itu tidak besar, tapi benar – benar menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan indera pennglihatanku. Sejenak aku seolah lupa tujuan semula aku mendatangi taman ini. Tapi nyatanya hal itu tidak mungkin bisa hilang dari benakku.

Aku dihadapkan pada situasi yang sulit untuk memilih. Maka di sinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok…. Agar aku diberikan sedikit saja kekuatan untuk menghilangkan kenangan yang seharusnya tak tertoreh kala itu….

gambar nyomot di google


Selengkapnya...
0

Julie Andrews’s Note (episode 1)

Julie Howard terlonjak dari kursinya, Lamunannya seketika itu buyar karena dering ponsel yang tergeletak di meja kerjanya. Julie menyambar ponselnya dan langsung menjawab telepon tanpa melihat dulu nama yang tertera di layar ponsel.

“Hallo.”

“Julie Howard,” kata si penelepon. “Atau bolehkah aku memanggilmu Julie Elizabeth Andrews?” sambung suara di ujung telepon.

Julie terkejut. Ia melihat layar ponselnya. Hanya ada sederet angka tanpa ada nama. Berarti si penelepon adalah orang asing. Tapi bagaimana orang itu bisa tahu nama gadis Julie?

“Siapa kau?” tanya Julie yang mulai curiga.

“Oh, maaf. Aku lupa memperkenalkan diri,” sahut suara itu.

“Dari mana kau tahu namaku?” potong Julie sebelum si penelepon mulai berbicara lagi.

“Wow. Sabar, Julie. Aku tahu kau orang yang sabar dan juga teliti. Itulah sebabnya kau berhasil menjadi seorang pengacara yang handal. Tenangkan dirimu dan aku akan menjelaskan siapa diriku.”

“Oke. Aku mendengarkan,” sahut Julie dengan ketus.

“Hmm…. Kau tidak berubah, Julie. Masih sama seperti lima belas tahun yang lalu saat aku baru mengenalmu di bangku kuliah. Kau seorang gadis cantik yang ketus dan tergila – gila pada suasana musim gugur.”

Julie terkejut untuk kedua kalinya. Bagaimana tidak? Karena tidak ada satu orang pun yang tahu soal rahasia kecil itu, bahkan suami Julie sekalipun. Kecuali satu orang.

“Kau… William Crowe?” tanya Julie.

“Syukurlah kau masih mengingatku, Julie. Aku kagum pada memori otakmu,” jawab William.

“Dari mana kau bisa mendapatkan nomor ponselku?”

“Tak perlu khawatir, Julie. Aku mendapat nomormu dari seseorang yang sangat bisa kau percaya.”

“Dan siapa dia?”

“Steve Howard, suamimu.”

Dan ini kali ketiga Julie terkejut. Suara di ujung telepon sama persis dengan suara seseorang yang sekarang berdiri tepat di belakang kursi yang diduduki Julie. Perlahan Julie menengok ke arah belakang dan lengkap sudah kejutan untuk hari ini. Ia melihat William Crowe sudah berdiri tepat di hadapannya sekarang.

“Hai, Julie,” sapa William sembari menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam saku celana.

Julie bingung. Banyak pertanyaan di kepalanya saat ini. Tapi yang pertama kali akan ia kerjakan saat ini adalah segera berlari ke ruangan Steve Howard, suaminya.

“Aku permisi sebentar, ya. Kau, tunggu di sini. Aku tak akan lama.”

“Oke,” jawab William.

Setangah berlari, Julie menuju ruangan Steve. Di ruangan itu, Steve masih menerima tamu. Tapi Steve sudah melihat Julie berdiri di luar ruangan, lalu Steve memberi kode pada Julie agar menunggu sejenak.

Julie menunggu selama lima menit sebelum akhirnya tamu Steve keluar ruangan. Setelah tamu itu menjauh, Julie segera menarik tangan Steve untuk segera memasuki ruangan. Lalu Julie menutup pintu dan menurunkan tirai.

“Ada apa, sayang? Ini masih jam kerja. Kita bisa melakukannya nanti di rumah.”

“Aku tidak sedang ingin becanda, Steve. Sebaiknya cepat kau jelaskan padaku. Mengapa ada seorang William Crowe berdiri di samping meja kerjaku sekarang?”

“Oh, itu. Maaf, aku lupa memberitahukan kepadamu, Julie. William Crowe sekarang telah bergabung dengan firma kita.”

“Jelaskan lagi! Itu belum cukup menjawab rasa penasaranku. Bukankah karir William Crowe baik – baik saja di New York? Walaupun kebiasaan buruknya kadang menghambat kerja otaknya. Tapi selebihnya, ia tidak punya alasan kuat untuk pindah kemari. Apa yang sebenarnya membuat ia jauh – jauh datang ke San Francisco? Tentunya ia sedang tidak ingin mengikuti audisi untuk menjadi seorang actor, kan?!”

“Hahaha…. Tentu tidak, Julie,” jawab Steve sambil berjalan kembali ke balik meja kerjanya. “Aku tahu bahwa William adalah teman kuliahmu. Makanya aku terima ia bergabung di firma ini. Dan sebenarnya, ia sangat tertarik pada kasus Alicia Jensen.”

“Apa?! Itu tidak masuk akal. Kejadian itu baru dua hari yang lalu. Bagaimana mungkin William langsung ingin pindah ke firma ini? Paling tidak butuh lebih dari satu minggu untuk mengurus tetek bengek kepindahan itu.”

“Itu memang benar. William memang sudah mengajukan permohonan sebelum kasus Alicia terjadi. Tepatnya satu bulan yang lalu.”

“Dan mengapa kau baru memberitahukan semuanya kepadaku sekarang?”

“Aku minta maaf, sayang. Aku….”

“Oke. Cukup. Tak perlu kau jelaskan lagi. Aku sudah mengerti semuanya. Aku akan kembali ke mejaku sekarang.”

Julie hendak membuka pintu ruangan Steve ketika Steve memanggilnya kembali.

“Satu lagi, Julie.”

Julie berhenti sejenak.

“Aku sudah menjadwalkan kau dan William untuk bertemu Alicia hari ini di kantor polisi. Pukul dua siang,” lanjut Steve.

Julie keluar ruangan tanpa merespon perkataan Steve namun ia pasti akan mengerjakan perintah itu. Sekarang baru pukul sebelas. Masih ada waktu tiga jam lagi sebelum pertemuan itu. Dan Julie akan mempergunakan waktu itu untuk menginterogasi William.

William masih berdiri di tempat semula ketika Julie meninggalkannya. Ia tersenyum melihat Julie sudah kembali dari ruangan kerja Steve.

“Jadi?” tanya William.

“Steve sudah menjelaskan semuanya padaku.”

“Lalu?!”

“Selamat datang di firma Howard and Friends. Kau akan menempati meja kerja di sebelahku,” kata Julie sambil menunjuk sebuah meja kerja kosong di samping meja kerjanya.

“Itu saja?” tanya William. “Ayolah, Julie. Jangan bercanda.”

“Aku sedang tidak bercanda, Bill.”

“Wow. Dan kau pun masih ingat nama panggilanku. Awesome! Lima belas tahun dan kau masih ingat itu.”

“Urrgh. Sudahlah. Tak perlu kau teruskan membahas hal itu. Ayo kita pergi.” Julie mengambil tas kerjanya lalu berjalan meninggalkan meja kerjanya.

“Kemana kita sekarang?” tanya William sambil mencoba menyamakan ritme langkah dengan Julie.

“Bertemu Alicia Jensen. Bukankah itu yang kau inginkan, Bill?!”

“Ng…, bukan itu tepatnya. Tapi, baiklah.”

Julie dan William pergi meninggalkan kantor dengan menggunakan mobil milik Julie. Mereka menuju San Francisco Police Department untuk bertemu dengan Alicia. Tapi sebelumnya, mereka singgah ke sebuah kedai yang tak jauh dari kantor polisi.

“Kau bilang kita akan bertemu Alicia Jensen. Tapi mengapa kita malah kemari?”

“Anggap saja ini sebuah pesta penyambutan untukmu dari Howard and Friends. Aku akan menraktirmu makan siang. Lagipula, pertemuan itu masih dua setengah jam lagi,” jawab Julie.

Karya: Sekar Mayang

Selengkapnya...
0

Julie Andrews’s Note (Episode 2)

“Apa kabarmu, Nyonya Jensen?” tanya Julie kepada Alicia.

“Nona,” jawab Alicia dengan tegas. “Kalian tahu kalau aku belum menikah dengan lelaki itu.”

“Baiklah. Maafkan kami, Nona Jensen.”

Julie mengalah dan menyingkirkan egonya sejenak untuk menghadapi Alicia Jensen.

Alicia Jensen adalah seorang aktris muda berbakat yang tengah naik daun di Hollywood. Namanya berkibar melalui beberapa film berkarakter drama. Aktingnya pada kisah – kisah romansa cukup membuat penonton ikut meneteskan air mata ketika melihat raut wajah sedihnya. Namun dibalik ketenaran itu, Alicia adalah seorang wanita yang senang menggoda lawan mainnya, termasuk beberapa orang yang bekerja dibalik layar. Sudah banyak aktor yang berkencan dengannya dan hubungan itu selalu berakhir dalam hitungan minggu. Dan terakhir, Alicia menjalin hubungan dengan seorang produser film yang bernama Owen Goldberg.

Hubungan Alicia dan Owen adalah yang paling lama. Mereka sudah menjalin kasih selama satu tahun lebih dan sudah merencanakan sebuah pernikahan. Bahkan mereka sudah mempublikasikan hal itu kepada juru warta dan para penggemar Alicia. Pernikahan itu hanya tinggal tiga minggu dari sekarang.

Namun pernikahan itu harus dibatalkan. Karena calon mempelai pria, yaitu Owen Goldberg, ditemukan tewas dua hari yang lalu di rumahnya dengan luka tembak langsung mengenai kepalanya. Tidak ada saksi mata yang melihat kejadian itu. Tapi polisi sudah menetapkan Alicia sebagai tersangka, karena pada senjata api yang ditemukan di tempat kejadian perkara, terdapat sidik jari milik Alicia.

Kasus ini pun menyita perhatian publik. Yang menarik adalah perbedaan usia antara Alicia dan Owen. Saat ini Alicia berumur dua puluh enam tahun, sedangkan Owen berumur llima puluh empat tahun. Dan putri Owen sendiri, dari pernikahan sebelumnya, hanya dua tahun lebih muda dari Alicia.

Banyak spekulasi yang muncul di sini. Kebanyakan penggemar Alicia berpendapat bahwa Tiffany Goldberg, putri Owen, yang bersalah. Karena mungkin saja Tiffany tidak menyetujui ayahnya menikah dengan wanita yang lebih pantas menjadi teman bermainnya. Tapi di samping itu, ada fakta yang patut mendapat perhatian, yaitu sidik jari yang tertempel pada senjata api.

Semuanya masih kabur sekarang. Bahkan Julie pun tak tahu harus berpikir bagaimana. Ia tahu Alicia mengontak firma tempatnya bekerja karena mengacu pada kasus serupa beberapa tahun yang lalu. Memang bukan seorang selebriti yang mendapat kasus serupa waktu itu. Tapi Alicia berani membayar mahal untuk pembebasan dirinya.

“Baiklah, Nona Jensen. Bisa kau ceritakan semuanya dari awal?” tanya William.

“Aku tidak bersalah.” Jawaban Alicia singkat dan memberi penekanan pada kata ‘tidak’.

Julie dan William menunggu Alicia untuk mengeluarkan jawaban lebih banyak lagi. Tapi Alicia hanya terdiam dan hanya memainkan jari – jarinya yang lentik saja.

“Nona Jensen. Kami ingin sekali percaya dengan perkataan Anda,” ujar Julie. “Tapi berilah kami penjelasan lebih banyak lagi sehingga kami bisa membuktikan hal itu di pengadilan nanti.”

Alicia membetulkan sikap duduknya. Ia terlihat lebih serius sekarang. Sebelumnya ia seolah tidak menganggap kehadiran Julie dan William.

“Aku tidak tahu siapa yang menembak Owen. Saat aku tiba di rumah, Owen sudah tergeletak di lantai dan dari kepalanya keluar banyak darah. Lalu aku melihat lubang kecil itu di pelipis kiri Owen.”

“Jam berapa itu tepatnya?” tanya Julie.

“Sekitar pukul sembilan malam.”

“Di mana posisi pistol itu?” tanya William.

“Tak jauh dari tubuh Owen. Mungkin sekitar satu meter dan tak jauh juga dari pintu dapur. Aku tak tahu mengapa pelaku bodoh itu meninggalkan senjatanya di situ. Tapi belakangan aku baru sadar ternyata akulah yang terlalu bodoh. Aku memegang senjata itu tanpa memikirkan bahwa sidik jariku akan tertinggal pada benda sialan itu.”

“Jadi kau beralibi kau tidak sengaja memegang senjata itu?” tanya William lagi.

Air muka Alicia langsung berubah lagi.

“Itu bukan sekedar alibi, Tuan Sok Tahu,” jawab Alicia dengan kasar. “Baru saja aku bilang bahwa aku sudah bertindak bodoh dengan memegang senjata itu. Bodohnya aku karena baru pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat dan memegang senjata sungguhan di tanganku. Bahkan aku sampai lupa kalau tubuh Owen masih tergeletak di lantai. Sampai aku mendengar suara mencurigakan dari arah dapur. Pintu belakang terbuka lalu tertutup lagi. Tdak mungkin ada yang masuk ke dapur. Jadi pasti ada seseorang yang keluar lewat pintu itu. Aku berjalan ke dapur untuk mencari tahu siapa yang ada di sana. Sampai aku keluar ke kebun belakang, aku tidak melihat seorangpun di sana. Tapi aku yakin, orang itu adalah pembunuh Owen.”

“Apa Anda sudah menyampaikan hal itu kepada polisi, Nona Jensen?” tanya Julie.

“Tidak. Baru pada kalian aku mengatakannya. Aku bilang pada polisi – polisi itu kalau aku hanya mau bicara dengan pengacaraku saja.”

“Baiklah, Nona Jensen. Cukup sekian untuk hari ini. Selanjutnya, kami akan melihat lokasi pembunuhan itu,” ujar Julie. Ia berhenti sejenak untuk menarik napas panjang. “Saranku, Nona Jensen. Bicaralah apa adanya kepada polisi jika nanti mereka menanyai Anda. Berikan fakta itu walaupun mereka terlihat seperti tak mempercayai Anda. Biarlah nanti mereka yang menyusun kepingan puzzle itu untuk Anda. Kami berduapun akan berusaha maksimal untuk mengeluarkan Anda dari kasus ini.”

“Oke. Akan kulakukan,” jawab Alicia.

Karya: Sekar Mayang

Selengkapnya...
0

Dia Sahabatku… dan Aku Sayang Padanya…

“Aku tahu, Nita,” ujar Pram suatu hari.
“Tahu apa?” tanyaku tanpa curiga.
“Kau sedang dekat dengan pria lain.”
“Apa maksudmu? Pria yang mana?” tanyaku lagi, dan sekarang aku mulai curiga dia telah mencium jejak kebohonganku.
“Kau berubah. Terlampau jauh berubah.”
“Aku tidak pernah berubah, Pram. Aku tetaplah diriku yang seperti ini. Apa yang membuatmu menilai diriku berubah?”
“Ya, itu tadi. Kau sedang dekat dengan pria lain, dan itu yang membuatmu berubah.”
Hmm… Mungkin inilah saatnya aku berbicara soal kejujuran itu. Pastinya akan pahit untuknya. Tapi aku harus bisa melakukannya. Pram bukan hanya sekedar kekasihku. Dia tunanganku. Aku yang memilih dia untuk menjadi calon suamiku dan aku tidak boleh menyesal dengan pilihan yang kubuat sendiri.
Aku tahu, seharusnya aku tidak melakukan hal ini. Memiliki kedekatan dengan orang lain, sementara aku sudah bersama Pram. Tapi, apakah aku yang salah ketika rasa itu datang begitu saja menghampiriku? Aku tidak pernah memintanya hadir, rasa itu yang datang sendiri menghampiriku. Sekali lagi aku tanya. Apakah aku salah?
Kadang aku menginginkan suatu keadaan di mana aku sedang tidak terikat dengan suatu hubungan apapun. Aku rindu kesendirian itu bukan karena aku ingin sendiri. Hanya saja, aku ingin bisa jatuh cinta lagi kapanpun aku mau, dan dengan siapapun.
“Kau ingin tahu siapa dia. Itu kan maksudmu sedari tadi?!” tanyaku.
“Ya. Kau betul.”
“Mereka semua sahabatku. Dan pria itu…. Dia pun sahabatku, dan aku sayang padanya. Apa kau paham kata – kataku, Pram?”
“Kau tidak boleh menyayanginya.”
“Mengapa?”
“Karena kau milikku. Kau tidak boleh mencintai pria lain.”
“Aku tidak mencintainya. Aku hanya sayang dan peduli kepadanya. Apa itu salah? Dan satu lagi. Aku bukan milikmu, atau milik siapapun juga. Aku milik diriku sendiri. Jadi aku bebas memilih untuk menjatuhkan perasaanku pada siapapun.”
Manusia memang tidak pernah puas dengan apa yang sudah didapatnya. Termasuk aku, mungkin. Ah…, tidak. Aku bukannya tidak puas dengan pilihanku sendiri. Aku hanya ingin merasakan sesuatu yang berbeda, yang mungkin saja hanya bisa aku dapatkan ketika aku melenceng sedikit dari jalan setapak kehidupanku. Aku yakin, aku tidak sendirian berkubang dalam ketermelencengan itu.
“Jadi…, apa keputusanmu, Nita?”
“Keputusan yang mana lagi, Pram? Aku pikir kau sudah mengerti apa yang baru saja aku katakan.”
“Tidak. Itu belum cukup memberi kepastian untukku.”
“Pram…. Jika aku menyesal dengan pilihanku sendiri, mungkin saat ini kita tidak sedang berbicara di kamar ini. Percakapan ini membuatku harus berpikir ulang, apakah pilihanku sudah cukup membuatku nyaman. Jadi, sekali lagi kau menanyakan sesuatu tentang persahabatanku dengan pria itu, mungkin aku akan menjadi menyesal telah memilihmu.”
Hidup adalah pilihan. Dan aku telah memantapkan pilihanku sendiri. Sekali lagi aku tegaskan pada diriku sendiri, aku tidak boleh menyesalinya.
Soal pria lain yang dimaksud Pram tadi…, well…. Dia sahabatku… dan aku sayang padanya.

Karya: Sekar Mayang

Selengkapnya...
0

Cerita Nisa: Aku Bukan Siti Nurbaya!!!

“Nisa…. Menikahlah denganku. Akan kulunasi semua hutang ayahmu di lima bank itu,” pinta Arman.

Nisa tidak menjawab. Kepalanya semakin tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya dari pandangan pria di hadapannya. Bulir – bulir bening telah menyeruak keluar dari mata indahnya. Nisa menangis.

Hati Nisa remuk kala itu juga. Ternyata ini tujuan utama dari pertemuan yang telah dirancang oleh orang tuanya. Sebuah perjodohan dengan syarat yang menurut Nisa sangat absurd. Seharusnya orang tuanya tidak mengorbankan dirinya hanya untuk kepentingan hutang piutang.

Hidup memang belum cukup adil untuk Nisa. Tapi ia harus tetap menjalaninya, demi keluarga.

***

Teruntuk kekasih hatiku…

Gerbang itu hanya sejengkal lagi dari hadapanku

Namun aku seolah tak bisa menjangkaunya

Tupai – tupai nakal sudah menggodaku untuk segera melangkah

Meninggalkanmu dalam kesendirian

Aku pergi bukan karena tak setiaku

Aku pergi bukan karena bosan dengan sayangmu

Mereka telah menukar diriku demi sebuah pengampunan

Mereka menganggapku tak ubahnya seperti barang dagangan

Aku takut… marah… sedih… kecewa… dan sakit…

Tak bisa aku dengan lantang berteriak dan menggeram

Aku berkubang dalam lumpur yang mereka sebut sebagai bakti

Dan aku tak bisa memintamu untuk menarikku dari kubangan lumpur yang pekat ini

Dan aku memang pergi bukan karena tak setiaku atau bosan dengan sayangmu

Jadi janganlah kau menangisi diriku

Jangan kau jual pula harga dirimu demi mendapatkan diriku kembali

Karena, walau raga ini menjadi milik seseorang di sana, tapi hatiku selalu untuk dirimu…

Nisa melipat kertas surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Esok, setelah Arman berangkat ke kantor, ia akan pergi ke kantor pos untuk mengirimkan surat itu untuk Beni.

***

Plaaakk!!!

“Apa kau bilang? Kau ingin berpisah denganku?! Meski berjuta – juta kali kau minta hal itu dariku, aku tidak akan pernah mengabulkan keinginanmu,” teriak Arman.

Nisa terpojok di sudut kamar, terduduk sambil memegangi pipinya yang pedih terkena tamparan Arman. Sambil terisak ia terus membela diri.

“Tapi apalagi yang bisa dipertahankan dari pernikahan ini? Dari awal saja, niat kita menikah bukan karena cinta, Mas.”

“Peduli apa soal cinta?! Kalau aku tidak menyelamatkan keuangan keluargamu, mungkin kau sudah berakhir menjadi tukang cuci piring di warung makan. Dan meskipun aku sudah melunasi hutang – hutang ayahmu di bank, aku masih bisa membuat keluargamu terpuruk di dasar jurang kemiskinan yang paling dalam. Camkan itu, Nisa!! Kau tidak mungkin lari dariku!!”

***

Nisa mengambil sebuah cangkir dari rak piring. Ia lalu mengisi cangkir itu dengan kopi dan gula dan diseduh dengan air panas. Ia mengaduk kopi dengan tenang dan disertai senyum yang jarang sekali ia perlihatkan.

Nisa merogoh saku celananya dan mengambil sebuah botol kecil berisi cairan bening. Ia membuka tutup botol itu dan meneteskan cairan bening itu ke dalam cangkir. Kemudian ia mengaduk lagi kopi itu untuk terakhir kalinya.

Nisa berjalan ke ruang makan sambil membawa cangkir berisi kopi itu.

“Ini kopinya, Mas. Silahkan diminum.”

“Iya, makasih,” sahut Arman sambil terus membaca koran.

Arman tidak memperhatikan bahwa sedari tadi Nisa memakai sarung tangan plastik yang biasa digunakan ketika hendak mengolah ikan laut.

Nisa kembali menuju dapur. Ia mengambil seikat kangkung yang tadi dibelinya di pasar. Ia dengan santainya memotong – motong batang kangkung.

Setelah beberapa menit, tiba – tiba terdengar bunyi berdebam yang cukup keras. Seperti ada benda berat yang jatuh ke lantai. Tapi Nisa tidak segera mencari tahu asal bunyi itu. Ia hanya menunggu beberapa menit sambil memandang pemandangan di luar jendela dapur. Ia sudah tidak menyentuh kangkung itu lagi.

Beberapa menit sudah berlalu, Nisa beranjak menuju kamarnya. Ia membuka lemari dan mengambil sebuah tas jinjing yang tak terlalu besar. Tas itu berisi beberapa potong baju dan uang tunai 10 juta.

Nisa keluar kamar dan berdiri memandang ke arah meja makan. Di lantai ada sesosok tubuh yang sudah tidak bergerak dan mulutnya mengeluarkan busa berwarna putih. Nisa merogoh saku celananya lagi dan memandang botol kecil berisi obat tetes mata itu sambil tersenyum.

Rencana Nisa sudah berhasil. Kini ia bisa pergi dengan bebas.

Cirebon - 131111


Karya: Sekar Mayang

Sumber: http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2011/11/13/cerita-nisa-aku-bukan-siti-nurbaya/

Selengkapnya...
0

Mencari Sahabat Dunia Akhirat

Sesosok Penuh Makna

Seorang sahabat adalah sosok yang sangat berharga bagi kehidupan seseorang. Kehidupan seseorang akan terwarnai dengan hadirnya seorang sahabat di sisinya. Jika sahabatnya baik, maka ia akan menjadi baik pula. Namun bila sahabatnya buruk, maka sudah sangat mungkin terjadi ia akan terwarnai olehnya.

Indah sekali apa yang pernah Rasulullah ibaratkan tentang seorang sahabat yang beliau umpamakan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Jika berteman dengan penjual minyak wangi, minimal akan mendapat dan mencium wanginya. Berteman dengan seorang pandai besi, bisa-bisa percikan apinya mengenai tubuh dan juga kedapatan bau busuknya. Sungguh beruntung seseorang yang mendapatkan sahabat sejati, yang memuji dibelakangnya dan mengoreksi didepannya.

Maka oleh sebab itu, pandai-pandailah dalam mencari teman atau sahabat. Karena boleh jadi ia akan menjadi pemandumu ke surga atau malah sebaliknya menjadi kendaraanmu menuju ke neraka.

Hanyakah Sebuah Permainan??

Ada sebuah pertanyaan, apakah persahabatanmu sekedar permainan yang bisa ditinggalkan ketika kamu merasa bosan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu diyakini bahwa kehidupan yang kita jalani ibarat sebuah perjalanan. Ada pepatah mengatakan, “Carilah teman sebelum melakukan perjalanan.” Sebab teman bagi seorang musafir bagaikan kehidupan dan ruhnya.

Oleh sebab itu jika persahabatan hanya sekedar permainan, maka tak ayal perjalananmu tidak akan nyaman hingga tujuan bahkan lebih buruk dari itu.

Timbul lagi sebuah pertanyaan, “Lalu siapakah yang layak menjadi sahabat saya?”

Rasulullah Saw telah bersabda bahwa agama seseorang bisa dilihat dari agama teman dekatnya. Itu artinya bahwa perangai, perilaku, dan tabiat seseorang dapat dilihat kepada siapakah seseorang itu bergaul. Maka hendakalah berhati-hati dalam memilih seorang teman. Karena bisa jadi suatu saat engkau akan menjerit dan menyesali keputusanmu persis sebagaimana firman Allah ;

يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)

“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.“ [Al-Furqan : 28-29]

Maka, relakah engkau akan bernasib demikian??

Beginilah Seorang Sahabat Sejati Itu

Suatu ketika Urwah bin Zubair datang ke kebun mulik Abdul Malik bin Marwan seorang sahabat karibnya. Urwah berkata kepada Abdul Malik, “Alangkah indahnya kebun ini.” Lalu Abdul Malik menimpalinya, “Engkau lebih indah dari kebun ini. Kebun ini berbuah hanya sekali dalam setahun. Sedangkan hikmahmu berbuah setiap hari.”

Subhanallah, alangkah indahnya sebuah persahabatan jika di dalamnya terdapat saling menasihati tentang iman, pentingnya mengingat mati, kepastian hari akhir dan segala hal tentang kebenaran hakiki termasuk segala kebaikan. Diri terasa dihibur dan juga digentarkan. Dihibur dengan cerita mengenai ganjaran kebaikan berupa surga, dan digentarkan oleh cerita dahsyatnya siksa neraka.

Alangkah indahnya seorang sahabat, yang ketika kita berbuat salah ia menegur dan menasihati, bukan karena rasa benci, namun karena begitu cintanya ia terhadap kita sehingga tak bosan-bosannya mengingatkan akan sebuah kebenaran. Namun seringkali kita terlupa, termakan oleh egoisme diri, merasa lebih baik, lebih banyak makan asam garam, sehingga menafikan sebuah kebenaran yang sebenarnya datang dari Allah Swt dan Rasul-Nya lewat lidahnya. Alangkah indahnya seorang sahabat yang mau ikut menangis bersama, ketika melihat sahabat lainnya jatuh dalam kubangan nista dan dosa, merasa kasihan, bukan kebencian hingga bergetar bibir menahan tangis dan kesedihan, terluka jiwa yang fitrah oleh tajamnya belati hawa nafsu.

Pintar Memilih Teman

Ada beberapa kriteria yang bisa membantu kamu menetapkan pilihan untuk memilih teman yang tepat.

1. Bersahabat dengannya dapat menambah keimanan

Sahabat dengan tipe seperti ini, jika melihatnya akan mengingatkan kamu dengan Allah. Duduk bersamanya membawa kamu kepada ketaatan. Kata-katanya penuh ilmu dan hikmah. Dan ia bisa mengubah setiap detak jantung dan hembusan nafasmu menjadi ibadah.

2. Bersahabat dengannya dapat menambah keilmuan kamu semakin luas.

Memiliki sahabat yang berilmu dapat menghidupkan hati dan menajamkan otak. Dengannya hidup akan selalu diselimuti nilai positif persahabatan yang dilandasi dengan ilmu. Dari sini kita dapat melihat bahwa keberkahan ilmu tidak terletak pada banyaknya. Tapi keberkahannya terletak sebesar apa pengaruhnya terhadap sahabatnya.

3. Dapat Membela Harga Diri Sahabatnya

Salah satu tipe sahabat sejati adalah ia senantiasa membela harga diri sahabatnya dan tidak rela harga diri sahabatnya dilecehkan. Rasulullah pernah bersabda, “Siapa yang membela harga diri saudaranya, maka Allah menjauhkan wajahnya dari api neraka pada hari kiamat kelak.” [HR. Turmudzi]

4. Ia Selalu Menolong Kamu dalam Kesempitan

Ada sebuah cermin indah yang dapat kita saksikan dari para pendahulu kita tentang arti sebuah persahabatan. Berikut kisahnya ;

Imam Al-Waqidi menceritakan pengalaman hidupnya. Ia berkata, “Saya memiliki dua orang teman. Satu dari mereka berasal dari keturunan bani Hasyim (satu keturunan dengan Rasulullah Saw.) Persahabatan kami sangat kuat ibarat satu tubuh yang saling merasakan penderitaan yang lain. Suatu hari saya mengalami krisis keuangan yang sangat berat. Krisis itu kami rasakan hingga hari raya datang.

Ketika itu istriku berkata, “Kita insya Allah bisa bersabar. Tapi bagaimana dengan anak-anak kita?” Aku tidak kuasa menahan sedih mendengar kata-kata istriku itu. Aku lalu mengirim surat kepada temanku yang dari keturunan Bani Hasyim tersebut. Di surat tersebut aku sebutkan bahwa aku ingin meminjam sedikit uang padanya. Setelah ia membaca suratku, ia mengirimi kami satu bungkusan. Di luarnya ia tulis bahwa uang yang berada di dalamnya adalah seribu dirham.

Sebelum saya duduk menghitung uang itu, tiba-tiba ada seseorang yang datang. Ia adalah utusan sahabatku yang ketiga. Ia meminjam uang karena ia juga sedang tidak memiliki bekal untuk lebaran tahun itu. Dengan berat hati aku serahkan kantong duit itu tanpa sempat kubuka. Aku juga melihat keberatan di wajah istriku.

Kemudian aku pergi ke mesjid, karena takut istriku marah. Tapi, Setelah aku pulang ternyata kudapati istriku tetap sabar dan tidak marah, bahkan ia memujinya.

Tidak lama kemudian sahabatku yang keturunan bani Hasyim datang. Ia membawa bungkusan tadi. Ia berkata, “Apa yang engkau lakukan dengan uang yang kukirim tadi?” Aku lalu menceritakan padanya kejadian sebenarnya. Ia melanjutkan, “Saat itu aku tidak punya apa-apa melainkan uang yang ada dalam kantong ini. Ketika kamu minta bantuan aku pun mengiriminya padamu. Setelah aku tak punya apa-apa lagi dan aku minta bantuan sahabat kita. Ternyata ia mengirimkan kantong yang kukirim padamu tadi.”

Akhirnya uang yang seribu dirham itu mereka bagi.

Imam Waqidi melanjutkan, “Kabar itu sampai pada khalifah Al Makmun. Ia memanggilku ke istana. Di sana aku menceritakan padanya kejadian itu apa adanya.

Ketika pulang ia memberi kami uang 7000 dinar. Masing-masing kami mendapatkan 2000 dinar dan 1000 dinarnya lagi ia berikan pada isteriku.”

Luar biasa sekali. Dari kisah di atas kita dapat mengambil banyak sekali pelajaran salah satunya adalah bahwa mereka lebih mengutamakan sahabatnya daripada dirinya sendiri sesulit apapun kondisinya.

5. Selalu Menjaga Hati dan Perasaan Sahabatnya

Seorang sahabat sejati, maka ia tahu bagaimana keadaan hati sahabatnya. Ia pandai dalam memilih kata dan berhati-hati agar ucapan serta tindakannya tidak melukai perasaan sahabatnya.

“Mulutmu harimaumu” begitulah pepatah mengatakan. Mulut bisa menjadi pedang dan pisau yang sangat tajam bila mengenai hati seseorang. Sakitnya tak terkira melebihi sakit tersayat sembilu. Namun pepatah itu seakan tidak berlaku bagi seorang sahabat sejati. Baginya mulut adalah bunga. Kemana-mana selalau menebarkan aroma wangi yang banyak orang mencari bak kumbang yang candu dengan aroma bunga.

Jangan Pernah Ucapkan Selamat Tinggal

Di era yang penuh dengan persaingan ini banyak sekali orang yang merasa kecewa bahkan putus asa. Semangat bersaing seringkali mengacuhkan kesetiaan sehingga sulit ditemukan sahabat yang sejati. Sahabat yang pengertian dan bisa diajak bersama menatap masa depan yang penuh barokah. Namun demikian, hal ini bukanlah saat untuk mengucapkan selamat tinggal, akan tetapi saat untuk menguatkan azam dan bismillah mencari sesosok sahabat sejati itu. Waallahu a’lam bis showab. [red.ays_n]

Post(grub):Senja Kelana Jiwa Hamba
Selengkapnya...
0

Semua itu biasa, tidaklah sempurna, tapi apa aku bisa seperti mereka?

#1
Kisah Si Gadis Desa hari ini. Hari ini Si Gadis Desa bersilaturahmi ke rumah salah seorang kerabatnya (seorang nenek berumur sekitar 60 tahun, sebut saja namanya Maryam) bersama beberapa anggota keluarga. Disana Si Gadis Desa dan anggota keluarganya itu...pun memperhatikan nenek Maryam yang bercerita dengan antusias. Meskipun sebagian anggota keluarga sudah mengetahui cerita itu, semua keluarga yang ada ditempat itu tetap seksama menyimak cerita nenek Maryam. Beberpa penggalan cerita nenek Maryam:
"aku bahagia menikah dengan kakek Abdullah (suaminya) aku sangat taat padanya, karena dia sangat menyayangiku sejak kita belum menikah dan aku sudah yatim. Kalian juga tahu kakek Abdullah jatuh sakit dan lumpuh 2tahun kemarin itu, dia bahkan kembali seperti anak-anak yang suka memanja dalam keadaan seperti itu. Saat itu aku sudah mulai merasa tidak nyaman dengan bagian kepala ini (sembari memegang bagian kepalanya yang di perban biar tidak tersentuh tangan). Dan aku pun masih tetap taat padanya meski kakek Abdullah sudah seperti itu. Aku merawat kakek hingga kakek Abdullah pun dipanggil oleh-Nya, aku pun tidak menangis karena aku yakin itu yang terbaik untuknya. Beberapa hari lalu. Setelah kakek meninggal, benjolan di kepala ini pun mulai membesar dan dokter bilang ini adalah tumor namun tak bisa dioperasi (karena beberapa alasan tertentu). Ketika seseorang datang menjengukku, aku katakan padanya kurang sabar apa aku ini? Dia pun menjawab, dia bilang "nek yang sabar ya? Yang penting apa yang sudah kita kerjakan selama hidup dan nenek adalah orang yang baik". Dan aku pun tersenyum".

#2
Di perjalanan pulang ngobrol dengan orang yang menyetir kendaraannya............berikut penggalannya:
Si Gadis Desa, " apa yang membuat mas begitu semangat bekerja bahkan mas hanya tidur sebentar dan hanya istirahat di saat shalat saja? Seakan mas ini gak punya rasa capek !"
Mas, "karena aku ingin anak ku di masa depan hidupnya jauh lebih baik dari aku, dan kau tau apa yang paling membuatku marah? Yaitu saat aku pulang dan anakku belum menunaikan shalat wajib (mengulur waktu shalat). Karena aku bekerja agar anakku tau semua itu!"

Semua itu biasa, tidaklah sempurna, tapi apa aku bisa seperti mereka?
.... Airmata itupun tak tertahan lagi..............
|Si Gadis Desa|

*Astaghfirullah wa atubu ilaih
Ya Allah, mohon masukkanlah kami ke golongan orang-orang yang penyabar.
Aamiin

Karya:

Kasih Jingga
Selengkapnya...
0

KEMATIANKU

Awan gelap terburu-buru memayungi bumi. Tetesan hujan semakin keras terdengar berpacu dengan rintihan binatang malam. Sesekali kilatnya menjilat bumi. Aku duduk di atas bangku yang ketiga kakinya keropos. Rumah kosong ini terlihat gosong sepertinya api tak kuasa menghabiskanya. kupandang gumpalan darah kering yang berceceran di tembok. aku tetap menatap darah itu. Itu darahku. Masih terekam jelas dalam memoriku tentang kronologi kematianku disini.

Tragedi menyayat hati itu terjadi tepat memasuki detik-detik pergantian tahun. Berawal dari si sony anak semata wayangku yang sering pulang malam. Sambil membawa aroma alkohol yang menyesakkan hawa sepetak rumah warisan nenek sony yang kami huni berdua. Hari-hari yang menjadi saksi tingkah laku sony seakan menjadi lembaran yang terus menumpuk dan perlahan membentuk keresahan bagiku. Memang, selama ini aku tak memperdulikan hal itu. Aku hanya tak ingin mengikat kebebasanya dengan aturanku. Alhmarhum suamiku sering mengatakan, “biarkan anak kita tumbuh dengan banyak pengalaman di luar, pengalaman yang akan mengajarinya untuk dewasa”.

Malam itu gerimis mengiringi pergantian tahun. Rasa gelisah mengepul di dadaku karena sony yang pergi tanpa pamit dan hampir dini hari dia belum pulang juga. Tetanggaku sering menemuinya sedang berkumpul dengan teman sebayanya. Duduk melingkar dengan beberapa botol ditengah mereka. Sampai detik pergantian tahun, aku masih menunggu di ruang tamu. Melamun sambil memandang dengan tatapan kosong pada jam dinding. Malam itu sepi, hanya nyanyian detak jam yang mengunyah waktuku.

Tiba-tiba sony masuk dengan diiringi suara khas pintu rumah. Sepintas mataku menatap jarum jam yang menunjukan jam tiga pagi. Ternyata aku tertidur dan melewatkan beberapa jam waktu penantian. Dengan baju basah dia menuju kamarnya sambil meninggalkan jejak ceceran air di lantai. Sontak aku memanggilnya, “sony.. kesini sebentar, ibu mau bertanya beberapa hal tentangmu yang akhir-akhir ini selalu pergi tanpa pamit”.. dengan nada yang semakin melengking seiring sony yang berjalan semakin menjauh. Entah mengapa sepertinya emosi membakar ubun-ubunku, ketika beberapa saat sony tak menjawab kata-kataku. Akupun mencoba menghampirinya dengan langkah gontai akibat rasa capek yang mengendap ditubuhku.

“Haaaahh…”, dari kejauhan suara sony menusuk telingaku. Kupercepat jalanku menuju kamarnya dengan dahi mengombak. Dalam kamar sony yang berukuran 4x4 dengan hanya bersekat triplek. Lampu kamarnya pecah dan kacanya berserakan. Di pojok sudut ruang kotak itu soni jongkok sambil melindungi kepalanya dengan lipatan tanganya. kasurnya berantakan, cermin telah menjadi mozaik dan berserakan di lantai, bekas kopi semalam membasahi tembok triplek itu. Pemandangan itu memacu aliran jantungku. “sony..apa yang kamu lakukan..?”, sikap diamnya membuatku penasaran dengan segera aku berupaya mendekatinya. Baru baru selangkah aku berjalan kaca yang berserakan itu menyobek telapak kakiku.

“aduh, coba liat kaki ibu keluar darah karena ulahmu.. kamu kenapa sony? Pulang malam.. pergi tanpa pamit.. pulang dengan baju basah.. badanmu bau alkohol..” tanpa menghiraukan sakit yang membuat darah di kakiku muncrat, akupun menghujamnya dengan beberapa pertanyaan.

“diam.. ibu bikin rame aja.. sana, ibu tidur aja daripada ngomel-ngomel gak jelas”

“nak.. aku ini ibumu, aku yang telah berjuang mati-matian mengeluarkanmu dari rahimku. Dari mana kamu belajar kata-kata kasar itu..”

“huuhh..”

“jawab sony, sebelum ibu melaknatmu menjadi anak yang durhaka..?”

“diiiaaaam..”

“dasar anak durhaka.. ibu menyesal telah melahirkanmu.. kamu selalu bikin malu orang tua.. pulang malam, mabuk, tawuran.. apa kamu lupa siapa yang melahirkanmu.. sadarlah nak..”

“haaaaahhh..”

Tiba-tiba dia mengeram keras dan tanganya mengambil potongan kaca. Perlahan dia berdiri seakan siap untuk berlari. Kamar yang gelap itu menutupi wajahnya. Lalu pecahan kaca itu dia ayunkan ke perutku. Darah segar mengucur deras dari sela belahan akibat pecahan kaca itu.

“bruuggh”, tubuhku membentur lantai yang dipenuhi serakan kaca.

Mulutku kaku, saat itu tak ada yang bisa aku ucapkan. Aku masih mengingat matanya merah dan berkaca-kaca. Dia terus menghujam kearah perutku. Seketika pengelihatanku menjadi gelap.

Setelah itu, dari kejauhan aku merasa melihat sosok mayat dengan isi perut berhamburan. Darahnya menggenangi lantai. Seorang anak lelaki kecil masih menusuk wanita itu berkali-kali. Aku mendekati sosok wanita yang tergeletak di lantai. Kudapati dengan jelas wanita itu adalah aku dengan anak laki-laki bertubuh sony di sebelahnya.

“Mengapa kita harus hidup dengan skenario takdir yang sudah disepakati. Seperti apa yang kualami”, sambil merintih dan menangis perlahan aku mengeluarkan kata itu dari samping jendela.



--dipublikasikan dalam buletin PaRTIKELIR edisi Oktober--

mohon kritiknya, akan kutukar kritik kalian dengan otokritik... ^_^

Oleh:
Dieqy Hasbi Widhana
Selengkapnya...
0

HATI YANG BERBUNGA

Saat ku Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa UGM di Jepara, ku terima suratmu, yang merindukan diriku dan minta aku agar membalas suratmu. Aku senang dan gembira membacanya.

Berulang kali kubaca suratmu. “Mas, jangan lupa untuk berkirim kabar kepadaku, karena aku merindukanmu,” bunyi surat tersebut, lalu kubaca lagi dalam bait yang lain,”Mas, kapan pulang, kasih kabar donk, biar aku gak menunggu-nunggu lagi….”.

Selesai membaca suratmu, aku lipat kembali surat tersebut dengan hati-hati dan kumasukkan kembali ke dalam amplopmu yang cantik dan menarik, karena ada gambar yang lucu-lucu disitu.

Aku sejenak termangu, bagaimana cara membalasmu, karena aku disini sibuk mengurus berbagai program kegiatanku yang masih belum jelas hasilnya. Akhirnya, kuputuskan untuk membalas menulis surat untukmu, agar beban pikiranku hilang. “Ah, kutulis saja surat balasan untukmu, sekarang. Aku lagi nganggur nich…”. Lalu kuambil secarik kertas hvs kosong di meja kegiatanku, lalu kutulis kata-kata yang indah dan menyejukkan, yang menceritakan mengenai program kegiatanku di sini, dan rencana pelaksanaannya, dan mohon didoakan, agar semuanya berjalan dengan baik dan lancar. “Doakan ya dik, mas disini baik-baik saja, dan semoga program kegiatan KKN ku dapat kujalani dengan lancar dan baik hasilnya. Salam termanis untukmu”.

Kututup kata terakhir dalam untaian kalimat penutupku kepadanya. Lalu kumasukkan ke dalam amplop putih yang banyak tersedia dimejaku. Lalu, aku meminjam sepeda motor temanku, untuk pergi ke kota Jepara, mengirimkan suratku tersebut. Temanku hanya mengangguk sambil menyerahkan kunci sepeda motornya dan tertawa cekikikan. Aku hanya tersenyum senang saja, karena motornya berhasil kupinjam.

Langit membiru, awan putih bersih berarak dengan rapi dan indahnya, membuat hatiku makin bergelora untuk segera mengirimkan surat itu ke kekasihku di Yogya, melalui kantor pos terdekat di kota Jepara.

Sesampainya di Kantor Pos Jepara, aku membeli perangko dan segera kumasukkan ke dalam bagian pengiriman surat, setelah sebelumnya, sempat kucium mesra surat tersebut. Beres. Lega hatiku. Segera aku bergegas pulang, takut kesiangan di jalan, karena program kegiatan KKN ku masih banyak yang belum terlaksana.

Kegiatan KKN ku berjalan dengan baik, sesuai rencana, meski kadangkala sedikit terhambat dengan datangnya musim penghujan, namun, akhirnya semua program kegiatanku berjalan dengan baik dan lancar, tidak ada yang tertunda. Aku senang sekali.

Akhirnya, program kegiatan KKN ku selesai, dan aku kembali pulang ke Yogya bersama kawan-kawanku satu tim, yang bertugas di Kabupaten Jepara.

Di Yogya, setelah aku membereskan barang-barang ku di rumah dan menaruhnya di dekat lemari pakaianku, aku langsung ke rumah kekasihku, di sana, kubawakan oleh-oleh untuknya.

Saat tiba di sana, sudah sore hari, dia baru saja menyapu halalamannya. Dia terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba tersebut, dan memang tidak kuberitahu kapan aku pulang dari KKN.

Dia nampak cerah dan berbinar-binar matanya. "Hai mas...! kapan pulangnya...?", tanyanya sambil menjabat tanganku. "Hari ini, tadi pagi...", sahutku sambil meremas erat telapak tangannya dengan erat-erat, tanda rindu yang bergejolak dan menderu. Dia pun tahu dan segera juga meremas tanganku dengan lembut. Matanya tersenyum padaku. Aku jadi tambah sayang padanya.

Segera dia bergegas ke dalam rumah, dan aku diminta menunggu di ruang tamunya. Bapak dan Ibunya amat baik dan ramah kepadaku, dianggap seperti anaknya sendiri, karena sudah lama kenal. Sambil menunggu, kulihat ruang tamunya yang tampak bersih, cantik, rapi dan indah, dengan pot bunga di lantai, serta vas bunga di meja tamu, juga tak ketinggalan, aneka lukisan dan foto keluarganya yang tersenyum padaku. Melambai padaku. Aku balas lambaiannya, juga senyum mereka.

Kekasihku datang dan membawakan makanan kecil yang mengundang selera untuk mencicipinya dan segelas teh manis. Aku segera mencicipinya, meski tanpa diminta olehnya. Dia hanya tertawa kecil saja, melihat polahku yang lucu dan menggemaskan.
aku memang kadang bertingkah manja didepannya dan dia pun sudah maklum tampaknya.

Lalu dia kuajak berbincang-bincang dan kuutarakan rasa rinduku padanya. Dia pun juga demikian. “Dik, aku rindu sekali denganmu. Aku amat merindukanmu. Ingin sekali mengajakmu jalan lagi, tapi kapan yach kau ada waktu…?”, kataku sambil menatap wajah dan senyumnya yang indah itu. “Aku juga demikian, mas…., merindukanmu. Lama mas ikut KKN, jadi aku kesepian. Memang banyak temanku yang kemari, menghiburku, membuat aku sedikit bisa melupakan kesepianku pada mas….”, katanya dengan polos sambil tersenyum manis padaku. Aku lalu menarik tangannya, dan kuelus lembut jemarinya. “Aku sayang pada dirimu, dik …”, kataku selanjutnya. Dia pun juga meremas tanganku dengan eratnya. “Aku juga mas, sayang padamu….”.

Akhirnya, sore itu aku pulang dengan hati yang berbunga, bermekaran, karena kekasihku amat sayang padaku, demikian juga, aku pun sayang padanya.

Hasil perbincangan tadi, besok pagi, dia mau kuajak jalan-jalan bersama, naik sepeda motorku, yang sudah butut, namun masih bisa diajak ngebut, meskipun pernah pula kalah dengan sepeda balap yang ngebut tak terkendali....... Aku hanya tertawa bila mengingatnya kembali….ha..ha…ha…

BY:Andin Adyaksantoro
Selengkapnya...
0

AKU HARUS TEGAR

Tak terasa, aku telah menjejakkan kakiku kembali ke kotaku, kota kenangan lamaku, Yogyakarta. Kota kenangan lama yang kembali menggurat ingatanku, di pelupuk mataku, dulu, kau pernah hadir menjemputku, saat kita masih bersama, berpacaran.

Kau datang memelukku dan menjabat erat tanganku, sebagai tanda rasa rindu dan kangenmu yang menggebu.

Di Stasiun Tugu inilah kau menjemputku dengan sepeda motormu, lalu kau kuboncengkan dan dengan eratnya kau peluk perutku dengan tanganmu yang indah dan halus. Kau tertawa dan bercerita panjang lebar selama dalam perjalanan dan aku menimpalimu dengan tawa dan candaku. Aku bahagia bersamamu saat itu.

Kau bercerita, “Mas, aku bahagia sekali bersamamu. Aku kangen dan merindukan dirimu, kadang aku memimpikan dirimu, bila lama kita tidak berjumpa. Aku ingin seperti saat-saat kita dulu belajar bersama di Perpustakaan UGM dan saat kau mencoba pertama kali berkenalan denganku dengan cara menjatuhkan bukumu di ruang perpustakaan, tepat di depan meja belajarku. Kau pura-pura kaget, dan aku membantumu mengambilkan dan menata buku-buku tersebut kembali, lalu kau menyentuh tanganku dengan mesra. Aku jadi tersipu-sipu, kau langsung tersenyum indah padaku…”.

Setelah kau berkata begitu, kau tertawa lepas, cengengesan. Mendengar kata-katamu itu, aku langsung menjawabnya,”Saat itu, aku terpesona dengan sorot matamu yang tampak cerdas dan ayu, kau adalah bidadariku, dan aku benar-benar menyukaimu, dik…”. Kulihat kau tersanjung dan aku pun jadi tersanjung pula, bisa membahagiakanmu.

Kini, kenangan itu muncul kembali, namun kau tidak lagi menjemputku, karena kau telah pergi jauh dariku, pergi entah kemana, aku tak tahu keberadaanmu, karena kau meninggalkanku, tanpa pesan atau pun surat yang terkirim padaku, padahal saat ini aku amat memerlukanmu, aku amat merindukanmu, namun aku tak bisa berbuat apa-apa lagi, aku jadi sedih bila mengingat dirimu yang pernah kukasihi hingga kini.

Tiba-tiba lamunanku dipecahkan oleh seorang abang tukang Becak yang menawari becaknya untuk mengantarku kemana tujuan yang hendak aku tempuh. Aku tanpa menawar terlalu lama, kunaiki becak tersebut menuju ke rumahku di Jl. Kaliurang, Yogyakarta.

Selama dalam perjalananku, aku mengenang kembali saat-saat bersamamu, saat-saat berboncengan bersama di Jl. Kaliurang, dekat kampus UGM yang kucintai, tempat almamaterku, tempatku pernah di wisuda disini, di Balairung, tempat yang pernah jadi kenangan, saat kau belajar bersamaku di relung-relung pojok pagar atau di taman yang rindang dengan pepohonan yang tinggi dan megah, di gedung Rektorat UGM.

Kau pernah bercerita, bagaimana senangnya bila kau dapat terus bersamaku, berduaan, hingga kaken ninen. Aku tersanjung saat itu.

“Mas, bagaimana kalau seandainya, kita terus bersama, hingga kaken ninen, dan punya banyak cucu yang ganteng dan cantik2…, kau pasti senang dan bangga ya..he..he…”. aku menjawabmu dengan mencolek pipimu yang merona merah,”ah kau bisa aja dik…, tentu saja aku senang dan bangga, karena aku akan punya cucu yang ganteng dan cantik-cantik seperti neneknya…ha..ha…”.

Indah memang saat itu. Kau belajar dan membaca buku-buku teori kuliahmu, aku pun juga demikian. Terasa indah waktu itu.

Kini, kau tidak lagi bersamaku, aku harus bisa melupakanmu, bagaimana pun caranya. Aku tak ingin terpuruk dan selalu mengingatmu lagi. “Semoga kau bahagia, dik, dimana pun kini kau berada...",gumamku seorang diri, saat menumpang becak yang melaju pelan menuju ke rumahku, di Jl. Kaliurang, Yogyakarta, rumah yang pernah jadi kenangan indahku bersamanya, saat makan rujak bersama dan saat masak nasi, sayur dan lauk bersamanya. Aku jadi sedih, bila mengingatnya, namun aku tak mau terpuruk, aku harus tegar dan tabah.
Selengkapnya...
0

HARI YANG TERINDAH BUATKU

Saat kubertemu dengannya di Blok M, dekat Terminal bis, di Jakarta, aku nyaris melupakan wajahnya, yang pernah jadi temanku saat aku masih kuliah di Yogyakarta. Dia sekarang tampak lebih berisi dan lebih ceria serta lebih terawat di banding dulu, saat kost di Yogyakarta.

Kini, dia makin mendekati ke arahku, ke tempatku berada, di samping Toko Pakaian.

Dia Tersenyum dan tangannya melambai padaku, wajahnya ceria, berbeda dengan waktu dulu, yang pendiam dan sayu, serta kurus. Kini tampaknya dia sudah makin dewasa dan kepercayaan dirinya sudah meningkat tajam. Dia kembali melambaikan tangannya berulang kali kepadaku “Hai…hai…, mas….!”, teriaknya padaku. Aku hanya diam mematung, lalu kupaksakan tanganku untuk melambai, membalasnya.”Hai…, sini dik…!”, teriakku diantara bisingnya orang yang lalu lalang dan suara orang-orang yang menawarkan dagangannya melalui pengeras suara yang aduhai kerasnya.

Akhirnya, dia makin dekat ke arahku, dan aku kini berhadapan dengannya. “Hai…, mas….. Masih ingat denganku khan…?”, tanyanya. “Ya, dik. Namun, aku agak lupa. Mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun ya kita tidak berjumpa. Sendirian atau dengan yang lainnya…?”, tanyaku sambil memandang kerumunan orang yang lalu lalang di sekitarku. “Sendirian lah mas…. Mosok dengan teman-teman…”, katanya setengah manja. “Mari kita jalan, mau kemana…? Makan atau belanja ke mana, terserah adik saja. Mas ngikuti aja…”, kataku dengan canggung sambil terus memandangnya, memandang wajahnya yang masih terlihat gurat-gurat kecantikannya, seperti dulu saat aku mengenalnya, dan saat berusaha merebut hatinya. Namun, kenangan ini justru membuat hatiku pernah terluka. Karena dulu, aku tak ada keberanian untuk mengutarakan isi hatiku yang terdalam, yang menginginkan dia jadi pacarku.

Waktu itu, aku sudah ke tempat kost-kostannya, namun, sewaktu main ke tempat itu, disitu sudah ada teman-temanku, juga temannya, yang sedang bersendau gurau dan tampaknya tidak terlalu memperhatikan diriku, atau pura-pura tidak memperhatikanku saja. Aku saat itu merasa teriris, cemburu dan segala macam pikiran tak sedap bergelayut di kepalaku.

Aku duduk di ruangan tamu kost-kostannya dan berusaha menenangkan hatiku untuk mengutarakan isi hatiku, namun, suasananya kurang mendukung. Saat itu, ketika dia pun akhirnya menoleh padaku, karena waktu itu dia sedang bercanda dengan teman-temanku, dia bertanya padaku, “halo mas. Apa kabarnya…, tumben datang kemari, biasanya sibuk …”. Aku semakin tertusuk hatiku, bagaimana tidak, aku dibilangin sibuk.

Memang saat itu, kegiatan ku banyak, ya ikut kegiatan mahasiswa, ikut nyambi-nyambi kerja cari uang tuk nambah uang jajan, ikut kegiatan teman yang suka main bola, dan lain sebagainya, sehingga aku memang tidak memperhatikan dirinya.

Lalu lamunanku buyar, saat dia bertanya padaku lagi, “mas, ngelamun yach…. Kalau ngelamun, tidak disini tempatnya…, di sono tuh, di rumah…”. Aku hanya cengar cengir saja.

”Aku kemari hanya ingin mengajakmu main ke luar rumah. Aku bawa kendaraan sepeda motor, kita pergi berdua saja. “, bujukku sambil menatap dirinya, yang nampak kaget dan gelisah. “Aku tak bisa, mas. Mas bisa lihat sendiri, itu teman mas ada disini, juga teman-temanku. Bagaimana mungkin aku meninggalkannya…? Maaf mas, aku tak bisa….”. Jawabannya membuat jantungku berhenti berdenyut. Aku beranikan diri lagi, “Tapi, mereka khan bisa menunggu sejenak?”, kataku tak mau kalah. “Iya, tapi, mas main disini aja khan juga bisa, nggak usah main keluar. Ramai-ramai canda disini aja. Bagaimana…?”, tanyanya. “Wah. Payah nich. Orang mau mengutarakan isi hati kog malah disuruh main dan canda dengan teman-temanku", pikirku putus asa.

Memang sekarang bukan saat yang tepat untuk main hati dengannya nich”, pikirku.
Melihat situasi yang tidak sesuai dengan harapanku tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan tempat kost-kostannya, pergi dan tak akan kembali lagi. “Baik, dik. Aku mau pulang saja. Aku mau permisi dulu. Ada yang perlu kukerjakan lagi”, kataku sambil siap-siap berdiri. Dia nampak kaget dengan sikapku yang lugas dan tegas tersebut. Aku memang orangnya pendiam, dingin dan tegas.

Sebenarnya hatiku juga kecewa dan terluka, namun bagaimana lagi, aku harus menerima kenyataan ini. Temanku yang melihat aku mau pulang, pada ngomong “Udah disini aja dulu, main di sini aja”, kata mereka sambil tersenyum dan canda ria. “Maaf, masih ada kerjaan di kampus.”jawabku sekenanya saja.

Setelah kejadian tersebut, aku tak pernah lagi main ke tempat kost-kostannya, sehingga aku melupakannya.

Sewaktu aku di wisuda, di Balairung, Yogyakarta, dia datang bersama teman-temanku, nampak senang dan gembira. Katanya mau nyelamatin dan lihat aku diwisuda serta nemenin aku wisuda. Aku jadi tersanjung. Namun, ketika kuajak foto bersama, mereka malah cengengesan dan mundur, tidak mau berfoto bersama. Aku jadi terluka lagi. “Ah ya sudah, dasar masih anak-anak.”, hiburku sendiri. Padahal mereka sudah kuliah semua pula.

Selesai foto bersama keluargaku, mereka kucari-cari, namun sudah tidak ada lagi. Kemana yach….?. Aku khawatir, mereka masih ada di sekitarku, namun, setelah lihat sana tengok sini, tidak nampak juga batang hidungnya, akhirnya aku bersama keluarga ku yaitu orang tuaku dan adikku, pulang ke rumah. Untuk melepas lelah.

******

Kini, dia ada didepanku, tersenyum padaku. aku seakan tak percaya dengan mata kepalaku sendiri. Dia juga memandangku, seakan juga tak percaya atas apa yang dilihatnya kini. Dia terus menatapku dengan penasaran. Aku juga ragu-ragu untuk menyentuh tangannya. Canggung. Ini seperti saat aku dulu berkenalan dengannya.

Akhirnya, kupaksakan diriku untuk menjabat tangannya, dan dia pun membalasnya. “Hai, selamat berjumpa lagi yach. Aku minta maaf, agak lupa. Sekarang mau kemana kita ?”, tanyaku untuk menutupi rasa canggungku. “Kita makan aja yuk, di Mall itu, makanannya enak dan tempatnya bersih serta enak untuk berbincang-bincang. “Aku setuju saja, aku nurut saja, apa yang kau pilih, dik.”, kataku sekenanya.

Lalu aku diajaknya memasuki Mall yang ada di sekitar tempat tersebut, di Blok M, tempat aku dulu sering jalan-jalan dengan temanku sewaktu aku bertugas di Jakarta, namun kini, aku sudah tidak di Jakarta lagi, di luar jawa, dan kebetulan sekarang dapat tugas lagi ke Jakarta selama 2 hari. Kesempatan ini kupakai untuk bertemu dengannya, dan dia pun juga setuju. Nostalgia teman di Yogyakarta.

Sewaktu sudah duduk di restoran tersebut, aku memesan makanan yang aku suka, dia pun juga begitu. Tak terlalu formal, dia pun mulai bercerita panjang lebar tentang kehidupan dirinya, yang sudah sukses kerja di suatu perusahaan yang besar dan bertaraf internasional. Aku salut dan bangga padanya. "Selamat ya..., semoga sukses slalu....", kataku sambil menjabat tangannya dengan erat, dia pun membalasnya dengan erat pula. Aku jadi tersenyum padanya, dia pun juga begitu, tersenyum padaku dengan pandangan yang bersinar dan membuat jantungku berdegup lebih kencang. Akhirnya, kulepaskan jabat eratnya, dan mengangkat gelasku sebagai tanda menghormati dirinya.

Apa yang diceritakannya dengan panjang lebar, aku hanya mendengarkannya saja. Sewaktu ditanya, aku hanya menjawab sekilas saja. “Ya…, tidak..., berulang-ulang..”. Aku suka mengamati wajah dan cara bicaranya yang menurutku, dulu aku belum menikmatinya secara jelas. Aku suka itu.

Aku jadi tambah semangat, seakan-akan aku menjadi muda lagi. Aku menjadi seperti seorang pemuda yang energik yang penuh vitalitas lagi, seperti sewaktu kuliah di Yogyakarta. Aku betul-betul menyenangi suasana saat ini, yang membahagiakan diriku.

Dia kadang memandangku, terus merona merah pipinya, malu, tersenyum padaku, kemudian menunduk, mengaduk-ngaduk isi gelasnya yang berisi jeruk hangat, lalu menengadah lagi, menatapku dengan matanya yang berbinar-binar. Aku terus memandangnya. Nampaknya dia pun bahagia bersama denganku saat ini, saat berjumpa denganku.

Kubiarkan mataku dan hatiku yang sedang berbunga-bunga ini untuk menatap wajahnya yang ayu dan cantik, yang dulu pernah aku taksir. Dia tahu, kalau aku terus memandang wajahnya. Dia pun, tersenyum padaku. Manizzzz sekaliii….

“Ah sudahlah. Aku mungkin sudah tidak akan bertemu dia lagi nanti, sekarang lah saatnya aku untuk menikmati waktu berduaan ini dengannya sepuasnya, memandang wajahnya dan mendengarkan suaranya yang merdu dan indah”,pikirku.

Aku saat ini, hanya bisa diam, memandangnya dan kadang juga, aku menunduk, malu dilihatin olehnya. Entahlah, kenapa aku diam saja, dimana biasanya, aku kalau kumpul dengan teman-teman ku yang lainnya, paling mendominasi pembicaraan, suka humor dan membuat tertawa teman-teman, sekarang nglumpruk…,lemes, tak berkutik dihadapan dirinya.

Aku tak mempedulikan orang-orang yang ada di sekitarku. Aku ingin saat–saat seperti ini, tidak cepat berlalu.

Makan siang pun, aku hanya makan sedikit saja, sekedar makan saja, dia pun juga begitu. Dia nampak puas dan bahagia bisa bertemu denganku, demikian pula diriku.
Tak banyak lagi yang perlu diceritakan, dan dibicarakan. Meski bibir tertutup, namun mata dan hati sudah saling berbicara panjang lebar.

Akhirnya, siang itu juga, setelah makan siang, di mall, kami pun berpisah. Masing-masing pulang membawa kenangan tersendiri di hatinya masing-masing. Aku dengan rasa bangga dan bahagia, dia pun kupikir demikian pula. Yach…, kenangan lama yang tak terlupakan, akhirnya, bisa bertemu jua.

Tangan-tangan Tuhan telah berbicara. Aku mensyukuri nikmat-Nya. Terima kasih Yaa Tuhan, Engkau telah mempertemukan kami, meski dalam nuansa yang berbeda, namun aku menyenangi hari ini, hari yang terindah buatku dan membuatku bahagia.

Kini aku tidak terluka lagi. Sembuh total. Terima kasih.
Selengkapnya...
0

PENYESALANKU

“Penyesalan…” satu kata yang dari dulu selalu aku hindari, tapi sekarang aku benar – benar mengalaminya. Sebuah pelajaran yang aku dapatkan setelah dia benar-benar pergi meninggalkan aku, untuk selamanya! Aku memang telah mengikhlaskannya tapi aku tak akan bisa melupakannya. Satu hal yang sangat kusesali, ku tak sempat ucapkan sebuah kata maaf! Sungguh nilai yang tak sebanding jika melihat apa yang telah kulakukan. Dan tak sempat pula kuucapkan terima kasih atas semua yang dia berikan untukku.



***

”Dinda…dinda…” tiba-tiba Rizki memanggilku dari kejauhan.

“Ya, ada apa Riz?” Aku langsung menghampiri dia yang sedang berada di kantin.

”Dinda, besok mau ambil nilai olahraga ya, aku boleh jemput kamu pulangnya?”

Apa? Jujur aku sedikit tidak menyangka, senang sich tapi… aku akan grogi kalau ada Rizky. Tapi ya Ok-lah.

“Boleh, tapi jangan terlalu siang ya soalnya aku mau pulang lebih awal.”

“Ok! Bye..” Rizky langsung pergi setelah menyetujui persyaratanku, aku tahu dia pasti malu. Aku pun juga merasa begitu, hanya bicara yang pentingnya saja. Padahal sebelumnya aku biasa dengan lancar ngobrol atau bercanda dengan dia, tapi semenjak ku menyadari perasaanku, aku selalu grogi di hadapan dia, dia pun begitu. Kita sama-sama tidak mau mengutarakan apa yang ada di hati sebenarnya masing-masing. Aku sendiri masih tidak yakin karena dia tidak seperti laki-laki yang kuinginkan, walaupun sebenarnya ku menyukainya. Dan lagipula aku juga masih belum siap dengan omongan teman-temanku kalau sampai aku jadian sama dia. Duh, aku paling gak bisa dengerin omongan orang.

***

Rrt..Rrrt..Rrt… Suara sms membangunkanku. Siapa sih malam-malam begini sms?! Oh ternyata dari Risky, ada apa ya?

“Dinda… maaf banget ya besok aq ga bisa jemput kamu. Aq ada masalah yang harus di selesaikan?tapi kalau masalahku sudah selesai aku langsung kesana”

Ugh, sebel, tapi ya udahlah biar aja, gak usah dibalas. Tanpa kuperdulikan aku langsung tidur lagi… Zzz… Zzz…

***

“Dinda kamu ambil nilai yang bagus ya? Biar prestasi kamu bertahan. Ok?!” Irfan selaku ketua kelas memotivasiku setiba di GOR saat pengambilan nilai. Aku adalah salah satu murid yang punya prestasi lumayan baik di sekolah. Itu juga salah satu hal yang buat ku berpikir untuk jalan bareng dengan Rizky.

***

Setelah pengambilan nilai, saat aku mau pulang, tiba-tiba… Lho itu kan Risky, katanya gak bisa jemput ada masalah?! Ya udahlah aku gak mau temuin dia. Lewat belakang aja biar gak ketemu, satu lagi senjataku selain acuh yaitu menghindar. Lagi pula sekali lagi aku katakan, aku suka grogi makanya gak mau ketemu dia. Dia memang selalu begitu suka membuat kejutan padaku, selalu bilang tidak bisa tapi akhirnya “Ya”. Aku sebagai cewek normal suka diperlakukan seperti itu tapi aku sendiri tidak bisa membalasnya.

Sesampai di stasiun Rizky selalu melihat ke arahku walaupun dia sedang dengan temannya. Tapi aku tidak berani untuk menyapa duluan, lagipula apa kata temanku. Biarlah toh besok bisa ketemu.

***

”Pagi Dinda. Eh, tahu kabar pagi ini gak? Si Rizky berhenti sekolah lho?!!!”

Deg! Benarkah? Ayu, salah satu temanku di kelas memberitahu itu.

“Beneran Yu? Kata siapa?!” Dalam hati ku berharap ini bohong. Ya ALLAH semoga…

“Bener kok Din. Tadi aku ketemu di stasiun dia bilang begitu. Ya emang dasar dia anak bandel gitu? Untung aja kamu ga jadi sama dia. Ya udah ya, aku ke kelas duluan.”

Aku hanya mampu tersenyum kecut, aku bingung harus bilang apa. Sesaat aku tersadar mungkin yang dia maksud ada masalah itu adalah ini semua, terlintas perasaan bersalahku karena aku sudah bersikap acuh tapi entah kenapa perasaan itu tidak berlangsung lama karena setelah itu aku kembali melanjutkan aktifitas seperti biasa.

***

”Dinda…” Sayup-sayup kudengar ada yang memanggilku, tapi siapa ya? Ramai stasiun begini aku sulit mengetahui siapa.

“Dinda…” Sekali lagi terdengar ada yang memanggilku. Dan ternyata… Rizky! Setelah dua minggu dari dia berhenti sekolah aku tidak pernah bertemu lagi, bertemu di stasiun seperti ini sebenarnya aku senang tapi aku lagi sama Lulu. Apa kata dia??

“Dinda mau pulang ya? Berdua aja nich?”

Aku hanya membalas dengan tersenyum karena aku merasa bingung harus bagaimana, apalagi aku pulang bareng Lulu (teman baikku), aku takut di ejek (begitulah aku, berpikir yang tidak seharusnya). Tanpa sadar kita bertiga sudah duduk di salah satu tempat duduk di peron.

“Dinda…”

Oh my God, dia menatapku dengan serius. Jangan-jangan…? Gak! aku gak mau sampai dia mengatakan itu. Hhuuhh… untunglah segera ada kereta.

“Sory Ky, aku pulang duluan ya? Kereta udah datang. Bye…” Tanpa perduli lagi, aku langsung naik kereta, dan Lulu segera aku tarik. Maaf ya Ris… Aku tahu dia kecewa.

***

Setelah itu beberapa bulan aku tidak bertemu Rizky, ada perasaan rindu tapi aku tidak terlalu memperdulikannya karena aku sedang sibuk dengan ujian.

Oya hari ini ada pengajian mingguan di sekolah, aku biasa mengikutinya sebagai vitamin atas imanku. Walaupun pulang agak larut menurut jam sekolah tapi aku tak perduli. Terkadang omongan tidak enak juga harus ku terima apalagi kalau melewati stasiun. Selalu saja ada omongan iseng “Pulang lembur neng baru pulang” Uggh! Sabar…

***

Yah hujan, mana udah malam sedangkan aku masih pakai seragam abu-abu. Sehabis pulang pengajian aku harus bingung, karena sudah malam trus hujan aku harus di stasiun pula. Sebbel!!! Tapi ternyata justru malam itulah yang akan kukenang selamanya.

“Dinda, mau pulang ya?! Abis pengajian sekolah?” Ternyata sudah ada Rizky di belakangku. Oh my god, aku kaget banget dan gak tahu kenapa jantungku berdebar kencang banget, seperti ada balap F1 di hatiku.

“Eh..Mm..Iya Riz.” Aku berusaha menutupi kegugupanku. “Udah malam banget hujan lagi?!” lanjutku lagi.

Tapi tiba-tiba Rizky pamit ke belakang sebentar, kukira dia mau menemui temannya. Sebeel, dicuekin langsung pergi lagi! Tapi ternyata? Dia beli payung!

“Yuk Din.” Dia langsung menarikku meninggalkan stasiun. Aku jadi bingung, hal kecil yang dia lakukan kali ini membuat aku gak mampu bilang apa-apa. Tentu aja sebelku yang tadi langsung hilang. Sepanjang jalan di tengah hujan hanya ada aku dan dia, orang-orang sekitar sedang meneduh dan melihatku dengan anggapan masing-masing. Aku benar-benar merasa seperti di lindungi, nyaman, dan aku juga merasakan ketulusan dia. Sungguh saat itu aku ingin mengatakan “Aku sayang kamu” tapi kembali tak bisa ku ucapkan.

***

Setelah malam itu aku tak bisa memungkiri, aku selalu kepikiran Rizky. Tapi aku bingung harus bersikap bagaimana. Ditambah aku mau ujian! Aku gak mau gagal ujian hanya karena ini.

***

”Dinda ada titipan. Ya udah ya mau langsung balik nich.” Nuri langsung pergi setelah memberiku hadiah yang aku gak tau isinya apa dan pengirimnya siapa. Tinggal aku sendiri yang kebingungan.

Sesampai di rumah, aku langsung membukanya. Dan jantungku seperti berhenti! Ya dari Rizky. Dia memberikanku sebuah bantal hati lengkap dengan tulisan “I Love you” dan boneka beruang kecil memeluk bantal itu. Sungguh saat itu aku benar-benar bingung, aku gak bisa berpikir karena saat itu aku memikirkan ujian.

Tiba-tiba… “Rrrt..Rrrt..” Hpku berdering ada sms. Aku tahu ini dari Rizky, Benar saja!

“Gimana dinda, suka ga?” Singkat tapi cukup jelas maksudnya. Dan aku hanya bisa bilang “Ya..” Aku sendiri tidak tau apa maksud jawabanku bilang ya. Duh..udah ah pusing! Seperti biasa aku acuh kembali.

***

Besoknya, sudah aku duga Rizky pasti datang. Dia ada di stasiun, Sungguh aku bingung! Kembali aku hanya mampu menghindar dan pasang tampang acuhku, karena hanya dengan itu dia tidak akan berani mendekatiku. Aku tahu salah, tapi aku juga belum bisa bilang “Ya maupun Tidak” pada dia. Mungkin aku seperti mempermainkan perasaannya, Maafkan aku!

***

Aku tahu dia pasti marah! Betul saja, tidak ada kabar sama sekali. Tapi aku tidak mau terlalu memusingkan masalah ini karena aku akan ujian! Aku harus fokus pada ini dulu. Egoisnya aku!!! Tidak tahu di sana dia sedang memikirkanku.

***

Hari ini kelulusan… dan alhamdulillah sekali aku lulus! Tapi jujur aku merasa ada yang kurang, karena tak ada Rizky di sini.

“Dinda…”

Oh My God… jantungku hampir berhenti untuk kesekian kali karena dia. Kulihat Rizky di depan mataku.

“Selamat ya, lulus…” Senyum manis dia berikan padaku

“Ya…” Aku hanya mampu balas itu, padahal aku tahu dia pasti ingin mengajakku jalan. Tapi ga tahu kenapa setelah itu aku malah asyik dengan temanku yang lain, dan Rizky??

***

”Assalamualaikum.. Dinda.”

Malam begini siapa yang bertamu ya? Oh My God Rizky lagi, kembali dia mengejutkanku. Tapi aku bingung harus bersikap bagaimana, Alhasil setelah mempersilahkan dia masuk, kami hanya banyak diam. Dan dia pulang setelah benar-benar merasa tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Selalu begini… Huuh…

***

Asslamualaikum Dinda…”

Siapa lagi yang bertamu malam-malam, aku kira itu Rizky. Tapi ternyata Ade, teman dekatnya Rizky. Dan aku sama sekali tidak menyangka hari ini adalah hari yang akan membuat diriku berubah. Dan penyesalan yang selalu ada kala aku ingat semua…

“Dinda, kamu yang tabah ya, Rizky meninggal tadi sore kecelakaan.” Satu detik yang seakan membuat duniaku berhenti. Aku tak mampu berkata apa-apa, sampai Ade menyadarkanku.

***

Di pusara ini, Rizky tidur dengan indah. Tak bisa kuhentikan air mataku walaupun satu detik. Semua perasaan hadir di hatiku. Aku tak tahu harus bagaimana?!!! Berharap ini hanyalah mimpi dan akan ada yang membangunkanku. Ya ALLAH…

Sampai terakhir dia berusaha membahagiakanku dan memberikan kejutan, tapi aku?! Sampai terakhir menyakitinya dan seakan mempermainkannya. Kenapa aku terlalu memikirkan orang lain, tanpa mendengarkan isi hatiku. Dia belum tahu yang sesungguhnya… Maafkan aku dan terima kasih…

Selamat jalan Rizky… Selamat jalan Sayang… Tidur yang tenang dan berharap kau memaafkanku…
Selengkapnya...
0

AKU INGIN MASUK KE SURGAMU

Tiba-tiba aku terbangun oleh suara yang melengking tinggi. Suara itu menggema dan sangat panjang, seperti tiupan terompet super jumbo. Saking kerasnya, suara itu seperti mengoyak lubang telingaku dengan kasar dan membuat kulit muka dan dadaku bergetar serta mati rasa. Meski kututup telingaku serapat mungkin, suara itu tetap menembus dan memasuki relung-relung jiwaku yang paling dalam. Seolah semua anggota badanku menjadi telinga. Merasa kaki dan tanganku mendengar langsung.

Dan jantungku serasa hampir lepas ketika suara itu berhenti. Semuanya menjadi sangat sunyi dan sesuatu seperti berdengung di telingaku. Jika saja suara itu berbunyi agak lama lagi, aku berani bertaruh aku pasti sudah kehilangan indera pendengaran. Sungguh suara yang dahsyat.

Serta merta aku bangkit dan menyaksikan hamparan padang putih yang sangat luas dan bahkan tak berujung. Padang itu dipenuhi banyak manusia dari semua ras. Mereka tak berbusana begitu juga aku. Dan tiba-tiba hawa udara yang sangat panas menyergap dan aku melihat matahari begitu dekat dengan kepalaku. Tengkukku hampir meleleh. Lalu kulihat segerombolan manusia yang melayang-layang oleh kepakan sayap mereka. Malaikatkah itu? Aku menatap sekelilingku dengan takjub, seperti seorang anak kecil yang melihat seperangkat mainan yang mahal.

Tempat apa ini?

Di mana?

Semua orang di situ juga sama bingung seperti aku. Tetapi seorang laki-laki yang berdiri di sampingku berkata,

“Inilah padang Mahsyar pada hari penantian sebagaimana yang dijanjikan Tuhan,” katanya.

Padang Mahsyar? Mengapa cepat sekali? Aku masih belum percaya. Rasanya aku belum mati. Aku belum pernah sakit keras atau sekarat. Aku merasa belum dishalati dan ditimbun dengan tanah. Aku belum meninggalkan dunia fana. Aku belum menyaksikan kedahsyatan kiamat.

Aku belum mati.

Tanpa dikomando, semua orang—termasuk aku—digiring menuju ke arah yang aku tak tahu apakah itu barat, timur, selatan, atau utara. Kami berjalan perlahan menuju tempat yang lebih terang dan lebih panas. Terdengar suara menggema yang bersahut-sahutan. Rupanya itu panggilan satu-persatu nama-nama manusia. Aku menunggu dengan tak sabar dan menatap ke ujung sana, di suatu tempat seperti jurang. Tempat itu lebih bercahaya karena ada kobaran api yang ganas di balik jurang itu.

“Itulah neraka yang panas, di bawah sana,” kata lelaki tadi.

Neraka? Tiba-tiba keringatku bercucuran, membentuk bulir-bulir air di seluruh wajahku. Jika benar ini hari di mana perbuatan manusia dipertanggungjawabkan, berarti kiamat memang sudah lewat. Aku jadi takut. Aku tak tahu apakah aku akan masuk surga atau neraka. Pikiranku kembali ke dunia fana. Susah mengingat-ingat kala dalam keadaan tegang seperti ini. Oh ya, aku ingat. Aku adalah seorang aktivis dakwah. Setiap hari sibuk dengan urusan agama. Ceramah di sana-sini. Berinfaq sekian banyak. Aku tidak pernah meninggalkan shalat dan puasa wajib. Yang sunnah pun aku tekuni. Aku sering jadi imam di masjid-masjid besar. Aku dihormati umat. Tentu saja aku termasuk golongan orang-orang yang beriman. Ya, aku yakin aku akan masuk surga.

‘Ya Allah Yang Maha Pemurah, masukkanlah aku ke dalam surga-Mu bersama hamba-hambamu yang beriman,’ batinku penuh harap.

Aku semakin yakin bahwa aku akan masuk surga ketika kulihat gerombolan manusia yang kepalanya menyerupai hewan. Mereka yang berkepala hewan pastinya akan dijilati api neraka jahanam, sedangkan wajahku masih mulus berbentuk wajah manusia. Kukira aku akan masuk surga. Surga. Surga, di manakah dia? Kulihat sebuah pintu yang sangat besar dan bercahaya. Pintu itu terletak di seberang jurang dan dijaga banyak malaikat bersayap.

Kukira itulah pintu surga.

“Lihat, itulah Surga yang dijanjikan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Harumnya bisa kucium, samar-samar. Bisakah kau?” ujar si lelaki seolah mengiyakan isi pikiranku.

Aku mengangguk antusias.

Ya, itulah pintu surga. Harumnya surga bisa kucium di tengah busuknya neraka yang menghalangi. Aku akan menuju ke sana. Tapi ternyata tak ada jembatan di atas jurang yang panas itu dan aku dilarang lewat oleh seorang malaikat bersayap banyak. Yang menyatukan kedua sisi jurang itu hanyalah untaian sesuatu yang lebih tipis dari pada sehelai rambut, hampir luput dari mataku. Ya, Shiratal Mustaqim. Tetapi bagaimana mungkin aku akan berjalan di atasnya? Tiba-tiba kulihat seorang pria berjubah berjalan dengan tenang dan anggun. Para malaikat melayang di kedua sisinya. Mungkinkah itu Rasulullah?

“Ya, Rasulullah yang mulia, shalawat dan salam atasnya. Beliaulah yang pertama memasuki surga,” jelas lelaki tadi.

Aku terkesiap. Seumur hidup aku mengimpikan untuk bisa bertemu dengan Rasulullah.

‘Ya Rasul Allah, menolehlah,’ batinku.

Ingin sekali aku melihat wajah Rasulullah meski hanya sebentar. Namun Beliau tak menoleh barang sedikitpun, terus berjalan dan memasuki pintu surga yang tinggi. Disusul oleh orang-orang mulia yang telah diceritakan dalam buku-buku sejarah yang membosankan—para nabi, sahabat Rasul, dan para mujahidin. Mereka melewati jembatan rambut—begitu aku menyebut Shiratal Mustaqim—dengan mudahnya. Ada yang berlari bahkan ada yang secepat kilat, seolah-olah jembatan rambut itu adalah sebuah jembatan beraspal yang lebar bagi mereka. Kulihat wajah para syahidin pada perang-perang Badar, Uhud, dan lainnya, memasuki pintu surga sambil tersenyum.

Antrian melewati jembatan rambut itu seperti tidak ada habisnya. Kini keadaannya sudah agak berbeda. Ada yang merangkak, ada yang sepelan kura-kura, bahkan ada yang bergelantungan di untaian yang sehelai itu. Agak menyakitkan ketika melihat orang-orang yang tidak berhasil melewati jembatan itu. Mereka terjatuh ke dalam neraka dan teriakan penyesalan mereka menggema berkali-kali. Membuat bulu kudukku berdiri tegak-tegak.

Lalu kulihat orang-orang yang hidup semasa denganku. Ya, itu si Badrun. Dia jatuh dengan menggenaskan. Ah, memang pantas neraka menjadi tempat untuknya karena sehari-hari hanya berjudi yang dilakoni. Lalu kulihat gerombolan pengamen yang dulu sering menggangguku di perempatan lampu merah. Tetapi anak-anak itu berlari-lari di atas Siratul Muttaqin dan sambil tertawa memasuki surga.

Darahku serasa menguap. Bukankah aku lebih mulia dari pada anak-anak gembel itu? Bukankah aku tak pernah mengeluh selama berdakwah di dunia? Bukankah aku orang yang ’saleh’? Mengapa anak-anak itu lebih dulu masuk surga dari pada aku yang seorang pendakwah dan dihormati umat?

Ada yang salah kukira. Tapi sejurus kemudian kulihat tukang sapu yang selalu membersihkan trotoar di depan rumahku. Juga pengemis yang saban hari menyambangi rumahku. Pembantu rumah tanggaku yang bebal. Anak-anak pengajian yang kuajari cara mengeja Al Qur’an. Segelintir jamaah masjid yang selalu menjadi makmum di belakangku di masjid kecil dekat rumahku. Ada juga kedua orang tuaku dan adik kandungku. Mereka memasuki surga dengan senang hati.

Aku menjadi lemas seketika. Pastilah banyak dosaku. Betapa sombongnya aku menyangka akan masuk surga. Bagaimana mungkin aku akan masuk surga sementara dengan mata kepalaku sendiri aku melihat orang-orang yang kuanggap hina memasuki surga tanpa halangan?

Karena sangat lama aku jadi kesal menunggu. Tiba-tiba namaku dipanggil tanpa embel-embel gelar yang susah payah kuraih selama hidup di dunia.

“Haekal Jayadi.”

Dan aku disodorkan sebuah buku yang besar. Mungkin inilah yang berisi amalku selama hidup di dunia yang fana dan sementara. Yang membuatku berbesar hati adalah aku menerima buku itu dengan tangan kananku. Kukira ini berarti amalan baikku lebih banyak daripada amal buruk. Amal buruk? Oh, bukankah aku hampir tidak pernah berbuat kesalahan? Tentu saja surga akan kumasuki.

Tetapi ketika membuka buku itu, wajahku pias seketika. Ternyata pahalaku hanya lebih sedikit dengan dosaku. Bagaimana mungkin? Atau ada salah perhitungan? Aku ingin melihat apa saja dosaku hingga sebanyak itu. Kubuka buku itu dengan tergesa.

Yang kudapat hanyalah tulisan riya, riya, riya, dan riya. Apakah aku selalu riya ketika hidup di dunia? Apakah demikian?

Aku malu mengakui. Ya, aku memang riya dalam beribadah.

Aku shalat di masjid hanya untuk mendapat rasa hormat para tetanggaku. Aku berjalan di subuh yang dingin dengan setengah berharap ada tetangga yang menyibakkan gorden jendela mereka dan melihat betapa rajinnya aku ke masjid. Aku bersujud lama-lama, namun yang kupikirkan hanyalah orang-orang yang sedang menatapku dengan kagum. Aku membaca ayat-ayat Al-Quran ketika menjadi imam dengan sangat indah dan panjang-panjang, bukanlah untuk ibadahku kepada Allah, tetapi untuk mengambil hati para makmum bahwa aku memang pantas menjadi imam mereka. Aku bersedekah banyak untuk yatim piatu di panti asuhan di hadapan tamu-tamu terhormat agar aku dikenal dermawan. Namun ketika aku dipinta recehan oleh pengamen di kaca mobilku, aku jadi orang yang pelit sekali, berpaling mengabaikan. Aku bertahan membiasakan diri puasa sunnah sebanyak mungkin. Tidak ada yang kudapatkan selain rasa lapar, dahaga, dan image bahwa aku manusia yang saleh dari orang-orang disekelilingku. Aku berkotbah dengan berapi-api di depan kaca di kamarku, melatih diri agar aku tampil tidak mengecewakan di depan jamaah yang mendengarku nantinya. Aku hanya mencari perhatian bukan mengharap ridha Allah.

Aku jatuh terduduk lemas menyadari bahwa aku manusia yang sangat riya. Kubuka lembaran selanjutnya dan seterusnya, hanya tulisan riya yang tergores. Namun tiba-tiba kata takabur muncul. Kemudian munafik dan kikir.

Apakah aku takabur? Aku tidak akan menyangkal karena semua yang tertulis dalam buku ini adalah benar.

Akulah orang yang sangat sombong dengan kebesaranku sebagai orang saleh. Aku adalah orang saleh di mata tetanggaku tetapi tak ubahnya mahluk yang hina di hadapan Allah yang menguasai segalanya. Aku sangat munafik. Aku berbohong, ingkar, dan berkhianat. Kuceramahi jamaah di masjid sementara apa yang kusampaikan tak pernah kulakukan sendiri. Aku adalah orang yang sok tahu. Kukobarkan permusuhan dengan pemimpin Islam lain. Kulemparkan kata-kata bid’ah padahal aku sendiri tidak tahu apakah sesungguhnya yang dianggap bid’ah itu.

Aku juga orang yang sangat kikir. Aku sudah terlalu bosan dengan pengemis kecuali ada kenalan yang kebetulan sedang melihatku, kalau sudah begitu mau tak mau aku harus memberi agar dicap pemurah.

Ternyata jiwaku kotor, berlumuran dosa. Hatiku hitam dan keras bagai batu-batu gunung. Ketaqwaanku rendah, dan aku tak lebih baik dari seorang pengamen gembel. Kupanjatkan doa pengampunan meski aku tahu itu sudah terlambat. Allah takkan mendengarku lagi.

Tiba-tiba namaku sekali lagi disebut dan aku harus melewati jembatan rambut itu. Jembatan itu terbentang sangat panjang. Ketika aku bersiap melangkah, jembatan rambut itu serasa selebar satu meter padahal mataku melaporkan bahwa jembatan itu hampir tak terlihat karena tipisnya. Aku lega, pastinya tak akan sulit bila lebarnya satu meter. Aku melangkah dengan yakin dan setengah malu atas dosa-dosaku. Angin neraka yang panas dan menyesakkan dada menghembus angkuh, membuatku bergoyang-goyang. Makin lama aku berjalan jembatan itu semakin menyempit dan akhirnya hanya selebar satu jengkal. Aku jadi takut dan tegang. Aku harus berusaha menjaga keseimbangan untuk setiap langkah sementara neraka bergejolak di bawahku. Tiba-tiba aku terpeleset dan terjatuh. Tetapi tanganku berhasil menggenggam jembatan yang semakin tipis itu. Jadilah aku bergelantungan menyedihkan.

Semakin tipis jembatan itu semakin mengiris tanganku. Aku kesakitan dan berteriak-teriak minta tolong kendati pun aku sadar tidak ada yang bisa menolongku sekarang. Ujung-ujung kakiku sudah hampir melepuh oleh api neraka. Akhirnya aku melepas peganganku dan aku terjatuh, merasakan betapa panasnya api neraka menjilati tubuhku.

Tiba-tiba aku terbangun dan merasakan wajahku basah dan dingin. Sepasang tangan menjawil hidungku serta menepuk-nepuk pipiku. Ketika aku memicingkan mata, seseorang sedang bersiap-siap mengoleskan balsem di hidungku.

“Istigfar, Jay, istigfar…” katanya.

Ternyata banyak pula yang mengerumuniku. Mereka berbisik-bisik ribut sekali. Aku baru ingat kalau aku sedang diundang ikut pesantren kilat di sebuah sekolah sebagai pemberi materi untuk peserta.

Aku mimpi buruk.

“Mimpi apa kok pake teriak segala? ” tanya Reza, sahabat yang menemani undanganku.

“Habis tidurnya nggak baca doa sih…” yang lain menyahut setengah berbisik.

Mimpi apa? Ya Allah, betapa menyakitkan cara-Mu mengingatkanku akan dosa-dosaku. Dosa-dosaku, ya Allah, dosa-dosa yang sungguh sangat kotor dan mengotori. Ampunilah hamba-Mu ini, yang jiwanya berlumuran dosa-dosa hina yang selama ini terselubung. Aku mengharap ridha-Mu Aku mendambakan surga-Mu, ya Allah.

Aku benar-benar menyesalkan, betapa aku manusia yang hina dibandingkan teman-temanku di sekelilingku ini. Aku tak pantas berada di dekat mereka bahkan memanggil nama mereka pun aku tak pantas. Bisa kurasakan tubuhku gemetar seolah jasadku menolak untuk membungkus jiwaku yang busuk. Air mata mulai meleleh di ujung mataku dan aku menangis sesunggukan menyesali semuanya.

“Kok nangis? Kak Jay… ”
Selengkapnya...
 
RENUNGAN JIWA © Copyright 2013 | Design By Haries Budjana |