0

HANYA DENGANMU AKU BAHAGIA

Kebahagiaan yang teramat sangat, saat ku baca kalimat cintamu yang menenangkan gelora badai angkara yang dibuat orang-orang diluar sana. Aku menyadari, tanpamu jiwaku tak menjelma apapun. Ragaku hanya keringkihan yang beku. Aku hanya bongkahan tanpa makna....

Aku akan masuk ke rumah kita. Aku rindu belai tanganmu saat memandikan aku dengan air yang kau siapkan jauh sebelum kedatanganku. Aku bahagia dalam tidur bersamamu, sebab engkau tak pernah melupakan bunga-bunga surga yang kau kirim ke dalam mimpiku....

Jujur sayang, hanya denganmu aku bahagia. Dekap aku selamanya...!!! Jangan tinggalkan aku. Aku tak ingin kau meninggalkanku setelah sekian lama kau biarkan aku membelai jiwamu dengan puisi. Setelah kau biarkan aku mengecup bibir rindumu. Setelah kau biarkan aku menyetubuhi malam-malammu. Biarkan aku tetap menjadi milikmu. Sebab aku, teramat mencintaimu...??!!!

Karya: Johnny-Bawole Harry-Santana


Selengkapnya...
0

ANTARA JALAN DAN TUJUAN

entah apa yang menjadi alasan banyak orang untuk mencari dunia
padahal mereka semua tahu bahwa
dunia ini hanyalah "samudra" yang menjadi jalan bagi bahtera untuk menuju sebuah pulau tujuan
dunia hanyalah jalan, bukanlah tujuan
tapi... apa yang terjadi saat ini?
yang sejarusnya jadi jalan, malah jadi tujuan
yang seharusnya dihindari, malah justru dicari
yang seharusnya ditinggalkn, justru dikerjakan, bahkan
kalau perlu jadi kebiasaan
benarkah ini adalah sekenario tuhan..?
atau justru ini adalah idenya manusia belaka, yang mencoba merubah sekenario itu,,?

Karya: ToeBaroni Ahmad

Selengkapnya...
0

BUKAN HANYA SATU PURNAMA

malam kian menggerus di balik selempang waktu, yang bermain di altar-altar cahaya temaram di sekat-sekat sinar rembulan, diantara tetets-tetes netra yang semakin merambah sunyi, sepi, dan hening. selaksa aral melintang di balik warna kenang mengurung sejumput rasa yang membayar segala penat yang merintih dalam dekapan warna di setiap detak-detak waktu yang terlalui, tanpa jedah.
bukan hanya satu purnama, lintingan waktu menjadi sebuah onak dalam perjalanan alam dalam meniti cahaya, majemuk di gubahan aksara merambah di setiap detak-detak nadi yang memendarkan cahaya putih tanpa cela, walau pun onak itu pernah menjadi rumbai-rumbai di selasar waktu.
ketika tanya-tanya itu menjawab sendiri tanyanya, seiris sembilu memecah hening dan keheningan di jalur-jalur nadi yang meneteskan darah segar di setiap makna-makna yang tergurat di balik misteri yang tersekat.

“ahhhhh” desahku lirih,

tatanan doa, tangkupan jemari melebur di hening waktu, mencoba menggali tanya tentanga dil dan ketidak adilan yang bercokol di netraku yang kian melembab di sebuah kedai kopi.
sorot-sorot mata menatap liar dalam tanya, namun tak bertanya jua, menukil dan memahat segenap cahaya yang memendar di balik kosongnya jiwa, kala sang mata hati bertautkan nilai-nilai sakral sang mauty, dan sang jiwa yang merindu di tapal batas aksara, menyemburatkan sekeping rasa yang berlabuh pada makna-makna di itrahnya syurgawi.

“izinkan aku belajar ikhlas” ucapku

tatkala malam semakin menggerus pagi, dan netra tak jua bersahabat dengan lelahnya raga, menuai segala mimpi dalam sadar, membaca setiap tarian-tarian jemari yang membelah semesta dalam lengkung-lengkung bias cahaya redup sang rembulan, yang terlindung di balik awan.
dan acap, sosok jiwa bertalu mengumbar teriakan hati, di setiap dinding-dinding terjal, menitikkan air mata di atas sungai eufrat, bersenandung lirih di atas puncak gunung bawakaraeng, tuk sekedar lepas penat raga dan jiwa yang menyaru dalam jelasnya warna di antara tarian-tarian jemari.

“sudahlah”
belajarlah ikhlas

dan kemudian
aku belajar
.

lembah bulusaraung
151011 : 04.33
Oleh : CURAHAN RASA

Selengkapnya...
0

WAKTU TERUS BERJALAN

entah karena sudah jadi motto hidup, atau sudah menjadi adat itiadat masyarakat umum di negeri yang konon dikata "penggalan surga" ini, yang mereka selalu beranggapan bahwa; "waktu terus berjalan", padahal sesungguhnya tak begitu bukan?
tidakkah "waktu terus berlari"..?
kita akan terus tertinggal oleh waktu manakala kita tidak ikut serta berlari, dan waktu atau zaman terus dan akan terus meninggalkan kita, jauh dan semakin jauh.
namun sayang, kita belum mampu merubah motto "waktu terus berjalan", sehingga kita masih suka bengan leha-leha, sibuk dengan fashion lah, sibuklah dengan GAULlah, sibuk dengan hal-hal kecil yang tak banyak faedahnyalah dan masih banyak yang laen lagi.
itulah fenomena yang nyata saat ini, dan tak banyak dari kita yang mau mengoreksinya...

Karya: ToeBaroni Ahmad
Selengkapnya...
0

AKU SAYANG KAMU

Kau duduk di pelataran, asyik dengan pikiranmu sendiri. Aku berjalan ragu
lalu bertanya,"...Boleh aku duduk di sampingmu..????", kau mengangguk..

Aku menunduk, lalu bertanya,"..Boleh aku bertanya padamu...????", kau mengangguk. Aku berkata, lalu kau terkejut....

Aku malu, kau tersenyum. Menatap ramah padaku, memegang hangat tanganku dan berbisik,"..Aku sayang kamu..."

:))

Karya: Johnny-Bawole H

arry-Santana
Selengkapnya...
0

PENGEMBARAMU

Pengembaraanmu tak pernah kunjung usai, kau mencari siapa dirimu. Kau mencoba untuk lari dari kenyataan..
Tapi aku tahu, aku mengerti. Jauh di dalam lubuk hatimu masih ada setitik cinta buat diriku..
Tapi aku tahu, aku mengerti.Kau terlalu sombong untuk mengakuinya..
Pengembaraanmu tak pernah kunjung usai. Namun..suatu saat..aku percaya...Kau akan kembali berlabuh di dermagaku. Dan kau akan membuang jangkarmu ke kedalaman yang tak pernah kau bayangkan, untuk bisa tetap lama bersamaku....

Karya: Johnny-Bawole Harry-Santana
Selengkapnya...
0

AKU DALAM RAGUKU

sejenak langkahku terhenti
selalu saja tak mampu kutepis lamunan tentang dirimu
masihkan dirimu dengan segala gundah
...mencoba merangkai warna warna terindah
yang telah kuhamparkan

ataukah ....

semua telah sama bagimu
mengabu lalu kau abaikan begitu saja
entahlah ....

sementara, diriku dalam kebimbangan
masih terus mencari letupan rasa yang kian meredup
tak dapat kupungkiri
ragu itu tlah bersemayam
dan ... mungkinkah cerita yang tlah terajut
kan terlerai sebelum sempat kusimpul diujungnya

kembali ...
bayangmu yang bertudung kelam menyambangi lamunku

Karya:
Fachrie Shafran Chairy

Selengkapnya...
0

JIKA DIRIMU BUKAN TAKDIRKU

Kunyanyikan syair berirama melayu..
Ditemani ribuan bintang dilangit nan berkelap kelip..
Ku kan selalu menunggu..
Menanti cintamu kembali padaku..

...Jika dirimu bukan takdirku di dunia ini..
Ijinkanlah hatimu jadi milikku di alam sana..
Dimana ribuan Bidadari kan menyaksikan..
Begitu abadinya cinta nan kita rasa

Karya:

Cintya Gadiez Dezuo

Selengkapnya...
0

NIKMAT DARI-NYA

tersipu tertunduk malu
terasa menyayat diri-sendiri
terjerat'y hati yg aku landa
tertunduk'y aku yg tak mensyukuri apa ada'y
tertipu amarah yg tak berguna
kini kusadar itu semua nikmat yg diberikan dari-NYA

Karya:

Mawar Hitam

Selengkapnya...
0

IKRAR

sayang, ini mata telanjang agar jelas nampak

pejamkan ingatan akan lalu, telah kelabu

adu dan tengadakan nafas ungkap peristiwa

jerat kata sumbang, simpan telapak tangan ditelinga



sayang, sudah jangan telanjang untuk kesana

kenang lelah ini diatas lunglai, kuburkan

ayo halau cinta yang terdampar disetiap rayu jalan

karena luang cinta telah sesak, antara dua hati ini



sayang, ayo telanjang lagi bersihkan peluh legam

menapaki garis cakrawala diatas riak gelombang

benyanyi berdua diatas bahtera kano ulin tua

larung lalukan buih kenistaan terjang bentangan
Selengkapnya...
0

DI LUAR BINGKAI ITU GAMBAR WAJAHKU

aku pemahat angka

yang menabrak segitiga

hidupku terlalu riuh

untuk sebuah sempoa tua,

yang ditampar jemari kasta



takdirku bukan isi buku dalam rak kubus

gambar wajahku telah terpampang

jauh di luar sudut bingkai



jalanku tanpa bentuk

jika nasib di atas sepotong garis

hidupku adalah tanda baca dan jutaan intonasi Tuhan



aku buta guratan melonceng nadir

mimpiku tumpah ke jalan

melukis corak yang bukan kotak-kotak



sembilu janji masih sunyi

di luar, banyak terlihat lingkaran yang kosong

aku hanya berdiri

memungut doa malaikat

pada malam langit pejal
Selengkapnya...
0

01 SEPTEMBER 2010

sepi

sepi

dan sendiri

seperti mati suri

di sini



hingar bingar sudah lelap bersama mimpi

hanya sunyi yang setia menemani

Lalu, kemanakah harus pergi?





menepi

merenung bersama diri

menengok kembali

rasa yang telah mati

______________

Beberapa bulan yang lalu hari-hariku diwarnai oleh sendu, pilu begitu bersahabat denganku. Terkadang tangisku pecah, batin kian ringkih membendung gundah. Sambil mengharap secercah cerah, setiap pagi kuhirup udara yang basah. Dengan mata memerah dan hati yang rapuh aku tertatih melangkah, menjalani hari-hari yang penuh gelisah.

“ Kutunggu kau dalam rinduku walau kadang aku meragu.

Aku tak ingin lekas membiru hanya karna sembilu yang tak henti mengiris hatiku.

Aku menunggu karna mungkin kaupun merindu, sama sepertiku. ”

Itu gambaran kehidupanku beberapa bulan yang lalu, saat aku masih berusaha meyakinkan diri untuk menunggu. Menunggu– mu.

______________

Kini semua telah berlalu, jiwaku bosan dengan semu dan diriku muak dengan hari kelabu. Hidupku membaru seiring berjalannya waktu. Aku tak lagi menunggu-mu. Aku melepasmu. Melepasmu bersama segala kisah kita di masa lalu.

______________

Sepi . .

masih sepi dan sendiri

aku tak benci suasana ini

aku memang butuh sendiri

aku ingin berbincang dengan hati.

“ Hey, masih adakah sedih ? Sudahkah sembuh ?

Sabarlah, aku yakin kau pasti akan sembuh.

Saat mengenang memang pedih, tapi ingatlah untuk tak lagi merintih.

Aku tak ingin kau jadi letih, aku tak ingin kau terbunuh oleh perih. ”

______________

Aku tak pernah kehilangan nyawa.

Walau belum sempurna semua rasa membalut asa yang pernah terluka oleh dusta,

namun takkan kubiarkan duka kembali merasuk relung sukma dan merobek resonansi jiwa.

Tak ingin lagi aku merana karna pesona cinta yang hampa.

Aku ada bukan untuk dipuja, tapi aku ada untuk diterima, diterima apa adanya.

Akan kucari suka di setiap jumpa, hingga raga mampu kembali mencinta.

Tentunya tak pernah kulupa menghamba restu pada Sang Maha.

Menghamba restu lewat untaian kata yang kuucap sebagai doa.

______________

Maha, aku memang hanya manusia biasa yang hina dan penuh noda dosa.

Namun, ijinkanlah aku mengecap makna bahagia sebelum aku tutup usia.

______________

masih sepi

masih sendiri.

~ haries budjana ~
Selengkapnya...
0

DI RUMAHKU

Di rumahku, hari ini.

Aku duduk di sudut ruang tamu rumahku bersama seorang teman.

Sejak tadi aku terus memperhatikan keramaian di sini. Ramai sekali. Banyak keluarga, tetangga, serta kolega yang datang untuk mengikuti serangkaian acara doa bersama yang diadakan oleh orang tuaku. Papa sibuk menyambut setiap tamu yang datang, mama sibuk mempersiapkan acara doa yang sebentar lagi akan dimulai, adikku sibuk membagikan air minum pada setiap tamu yang duduk. Semua sibuk, sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing.

Aku sebenarnya ingin membantu, tapi apa daya. .

___________

Acara doa bersama belangsung sekitar pukul 19.00.

Acara berlangsung selama 45 menit, singkat namun hikmat. Tidak sedikit yang menangis, bahkan mama sempat histeris. Aku tidak tahu apa yang dapat kulakukan. Aku hanya bisa terus diam di sudut ruangan. Aku hanya bisa terus memperhatikan mereka.

Aku sebenarnya ingin menghibur, tapi apa daya. .

___________

Setelah doa bersama selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah.

Seperti biasanya, papa menceritakan kepada setiap tamu tentang betapa bangganya ia memiliki anak sepertiku. Papa memang selalu membanggakan aku, ia sangat menyayangiku. Mama dan adikku sibuk membagikan makanan ringan, terkadang merekapun ikut terlibat dalam beberapa perbincangan.

Aku sebenarnya ingin bergabung, tapi apa daya. .

___________

Aku kesepian, aku merasa sendirian di tengah keramaian.

Sungguh menyedihkan, tak ada seorangpun yang memperhatikan aku di sini. Mereka kadang seperti sedang menoleh ke arahku, tapi saat aku ingin memulai bicara, mereka malah mengalihkan pandangan dan berbicara pada yang lain.

Mereka tidak jarang menyebut-nyebut namaku, tapi mereka sama sekali tidak menyapaku, pilu. .

___________

Waktu menunjukkan pukul 21.15 saat para tamu pulang satu per satu.

Aku masih duduk di sudut ruangan. Aku ditemani seorang teman yang sejak tadi ikut diam dan memperhatikan semua keramaian. Papa, mama, dan adikku masih sibuk. Papa mengantar tamu ke depan, mama dan adikku mulai merapihkan ruangan perlahan. Setelah mengantar tamu-tamu yang pulang, papa kembali, lalu ikut merapihkan ruangan.

Aku terus menunggu, menunggu mereka selesai dengan kesibukan mereka. .

___________

Hampir selesai mama merapihkan ruangan.

Di depan meja doa, lagi-lagi mama menangis. Tapi kali ini tidak sehisteris tadi. Papa berusaha menghibur mama dengan memberikan pelukan hangat dan belaian lembut di kepala mama. Aku dapat melihat dari sini, sebenarnya papapun menitikkan air matanya walau tanpa suara. Adikku juga larut dalam kesedihan yang sama, namun ia tak henti berusaha menghibur mereka dengan sejuta cara, terutama menghibur mama.

Aku sebenarnya ingin memeluk mereka, tapi apa daya. .

___________

“Kita sudah bisa pergi sekarang?” tiba-tiba temanku mengagetkan aku.

“Boleh aku minta waktu sebentar lagi? Sampai mereka selesai, dan aku bisa berpamitan..” kataku menanggapi pertanyaannya.

“Baiklah, tapi jangan lama-lama..” jawabnya.

___________

Papa, mama, dan adikku sudah selesai merapihkan ruangan.

Sekarang mereka sedang memperhatikan fotoku yang ada di atas meja. Tanpa kata, hanya air mata yang bicara, bicara tentang apa yang mereka rasa.

Aku tersenyum sambil menyeka air mata, aku bahagia. Mereka begitu menyayangi aku, aku yakin itu.

“Pa. . ma. . dik. . aku pamit……”

Aku terlalu terburu-buru untuk segera lalu, tak sempat menunggu mereka membalas perkataanku. Temanku yang sejak tadi terus memaksaku untuk ikut bersamanya tak mau lagi memberi perpanjangan waktu.

Aku sebenarnya masih ingin di sini, tapi apa daya. .

***********


Di rumahku, hari ini.


Aku tak berdaya.

Semua yang ingin aku utarakan tak dapat kuutarakan, semua yang ingin aku lakukan tak dapat kulakukan.

Aku tak berdaya.

Aku hanya terus terdiam di sudut ruangan, memperhatikan semua. Aku ingin bergabung, tapi aku tak bisa. Bahkan sedikit memberi penghiburan pada papa, mama, dan adikku pun aku tak bisa.

Aku tak berdaya.

Temanku membatasi aku. Temanku memisahkan aku dengan mereka. Temanku memaksaku menanggung pedih yang tak terperih. Ia hanya mengatakan bahwa aku harus bersabar, bahwa lain waktu aku pasti dapat bertemu kembali, dengan mereka.

Ya, mungkin aku harus menunggu, menunggu lain waktu.


___________


Selamat tinggal papa, selamat tinggal mama, selamat tinggal adik.

Maafkan aku, ragaku terpaksa meninggalkan kalian.

Tapi asaku akan selalu menemani kalian, sampai nanti,

sampai kita berjumpa lagi.

Di lain waktu, di lain kehidupan.

***********


Di rumahku, hari ini.
Selengkapnya...
0

DEKADE

Jo estava malalt a l’hospital

# day 1

putih…

# day 2

panas mengganas

# day 3

perih tak terperi

# day 4

menghitung hari

# day 5

masih putih…

# day 6

semua menangis

# day 7

ramai tapi sunyi

# day 8

bosan dengan putih

ingin pulang ke rumah…

# day 9

tengadah di ruang tengah

# day 10

Tuhanpun ikut menangis

# day 11

dingin… dingin sekali..

# day 12

tak ada titik terang

erang dalam radang

# day 13

Apolion jangan datang dulu

Rafael tolong aku !!

# day 14

Tuan, masihkah di situ

menungguku ?

# day 15

papa, mama

aku akan berusaha

# day 16

pulang.


pa, ma.. enam belas hari sudah, sesuai dengan tanggal lahirku..

semua sudah berlalu.. walaupun tak sesuai harapmu..

pa, ma.. jangan bersedih.. aku masih di sini..

jangan menghitung waktu, aku tak mau diburu..

pa, ma.. pasrahlah.. akupun berserah…

aku sayang . . . bawa aku. . . pulang.





__________________



16 September 2010



“Selamat ulang tahun, sayang. Gadis kecil papa kini sudah tumbuh dewasa. Papa selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, sayang.”

“Selamat ulang tahun, manis.. Mama selalu bersyukur padaNya yang menganugerahi mama seorang putri semanis kamu..”


Kalimat itu mengalir dari bibir kedua orang tuaku yang amat kucintai, yang melahirkanku dan merawatku selama ini.


“Terima kasih pa, ma..” isakku lirih menahan perih yang menerjang sekujur tubuh ringkih ini.


Tak ayal pikirku menerawang, menembus dinding-dinding putih sarat makna di sekitar kamarku.
Papa dan mama adalah anugerah terindah-Nya dalam hidupku.
Arghh, ingin rasanya aku memeluk mereka sekarang juga.


Asaku melayang, terbang melintasi angkasa, memutar kembali memori akan semua yang terkenang.
Sejak kepulanganku sepuluh tahun yang lalu, papa dan mama setia menemaniku. Mereka seperti tak kenal lelah walau aku tahu sesungguhnya tubuh mereka direngkuh peluh, dan hati mereka bersimbah darah memandangiku yang hanya terbaring lemah di atas tempat tidur kecilku ini.


Papa dan mama menghadiahkanku dua puluh tangkai bunga mawar putih, sesuai usiaku yang hari ini genap dua puluh tahun. Sudah sepuluh tahun, tapi papa dan mama tak pernah lupa warna kesukaanku, putih. Sepuluh tahun yang lalu saat usiaku genap sepuluh tahun, kamar ini, kamar dengan dinding putih ini menjadi hadiah ulang tahunku yang termanis sejak tangis pertamaku bergema di ruang kelahiranku.


Pa, ma.. Jari-jari mungil di tubuh ringkih ini ingin sekali meraihmu, namun aku sungguh tak berdaya.
Tapi, pa, ma.. Walau harus menderita berpuluh tahun lagi demi menanti, aku akan tetap setia, setia menanti.


__________________

“Sekarang kamu sudah lega bukan? Sekarang ikut Aku, Aku akan membawamu ke tempat yang indah yang penuh dengan suka cita dan kebahagiaan. Ikhlaskan hatimu untuk menerima, bahwa ragamu sudah tak lagi bernyawa. Ikutlah denganKu sekarang juga putri kecil, sudah sepuluh puluh tahun, sudah saatnya kamu meninggalkan semua ini.”

__________________

Setelah sepuluh tahun, akhirnya hatikupun mengalah, aku mulai menerima kenyataan bahwa tanggal 16 bulan September tahun 2000 aku dinyatakan telah tiada karna paru-paruku yang basah tak lagi mampu menghirup oksigen di udara, alat-alat bantu pernafasan tak lagi berfungsi pada tubuhku saat jantungku menghentikan detaknya, tepat di hari ulang tahunku yang ke sepuluh, sepuluh tahun yang lalu.

Hanya satu dekade usia yang Ia berikan padaku untuk bernafas di dunia. Jangankan kuliah, sekolah menengah saja belum sempat aku merasakannya.. Cita-cita? Hanya wacana yang kudengungkan sewaktu aku duduk di bangku Taman Kanak-kanak.. Tapi..

Arghh, ya sudahlah. Aku rela, walau berat rasanya, karna aku belum sempat membalas budi orang tuaku. Tapi aku tak punya pilihan lain. Aku rela.

Sepuluh tahun terpisah ruang dan waktu. Dimensi dan frekuensi yang berbeda membuat aku menderita menahan rindu. Pa, ma.. Suatu hari nanti, kita pasti bersama lagi, di sini, di tempat yang indah, di samping Allah.


Hujan yang turun di muka bumi mengalir selaras dengan hujan di pelupuk mataku, membanjiri tanah yang kini tak mampu lagi kupijak. Tubuhku perlahan melayang, menjauh, pergi bersamaNya, ke tempat yang Ia janjikan keindahannya.



Selamat tinggal seisi dunia, kunanti kalian semua di s u r g a.



***

DEKADE : sebuah catatan tentang gadis kecil yang mengidap paru-paru basah sejak lahir, di ulang tahunnya yang ke sepuluh ia menghembuskan nafas terakhirnya, dalam pelukan bundanya. Enam belas hari ia berjuang untuk bertahan hidup di rumah sakit, ia memiliki segudang cita-cita untuk membahagiakan kedua orang tuanya, namun apa daya, ternyata takdir berbicara lain. Ia harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya, sebelum menutup matanya ia sempat membisikkan doa “Ya Tuhan andai aku mampu, aku ingin hidup lebih lama lagi untuk berbuat lebih banyak hal.. Beri aku kesempatan sekali saja membuat papa dan mama tersenyum bangga dan bahagia. Kabulkan doaku ya Tuhan, walau harus melalui ‘aku’ yang lain.”
Selengkapnya...
0

30 SEPTEMBER 2010

Dia buah cinta kita, kamu yang membuat aku melahirkannya.

Sejak nafasnya nyata di dunia, kita mulai mengenal arti kata bahagia.

Kita bercita-cita untuk membesarkannya bersama dengan penuh cinta, hingga kita tutup usia.



***


(sembilan bulan yang lalu)


Langit merona jingga saat hatiku bersenandung lirih mengiringi kepergianmu. Aku dan dia menatapmu yang melangkah menjauh. Kamu pergi tanpa sedikitpun peduli padaku dan padanya, kami terpaksa harus bersahabat dengan sepi. Kamu hanya sempat mengatakan padaku bahwa jika kita berjodoh, kamu pasti kembali.


Hari-hari kulalui dengan peluh perjuangan. Aku berusaha membendung pedih menjaga dia sendiri. Gundah tak henti memerih karna aku tak hanya harus terus menghibur diriku, tapi juga dia. Aku dan dia sama-sama dirundung gelisah merindukan kehadiranmu.


Jenuh menyelimuti kalbu, tubuhku kian meringkih, namun aku masih terus menunggumu bersama dia. Aku tau aku sanggup, walau sesungguhnya aku tak mau berdiri tanpamu.


***


(tujuh bulan yang lalu)


Letih mulai merajam setiap persendianku. Terkadang aku tak mampu bertahan untuk tidak merintih saat dia mengeluh padaku.


Setiap hari dia menangis mempertanyakan kepulanganmu, dan aku hampir gila memikirkan bagaimana menjawabnya. Aku tak pernah bisa memberinya jawaban pasti. Ya, karna memang tak pernah ada kepastian kapan kamu akan pulang.


***


(lima bulan yang lalu)


Dia sekarat, entah apa yang menyumbat nafasnya, kian hari kian melambat. Aku tertatih, aku hampir kehabisan daya untuk menjaganya. Hasrat gejolak jiwaku merindu secercah cerah yang tak kunjung datang menghampiri.


***


(tiga bulan yang lalu)


Dia selalu mengisak di tengah sesaknya, dan aku tak tahan lagi. Aku memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Aku terpaksa membunuh dia karna ternyata aku tak sanggup menghidupinya seorang diri.


Air mataku menggenang mengenangmu saat kukuburkan dia di tempat pertama kali kita mengenalkan cinta padanya. Ya, sengaja aku menguburkan dia dengan tanganku sendiri di sana, untukmu.


***


(hari ini)


Kamu kembali, dan tanpa basa basi panjang kamu langsung mempertanyakan keberadaan dia. Sesaat aku ragu, ingin rasanya aku mendustaimu dengan mengatakan bahwa dia sedang tidur, tapi itu sangat mustahil karna kamu tak akan menemukan dia di atas kasur. Rasanya aku benar-benar ingin lari saat kamu terus memaksaku untuk jujur!


Kamu menghujam aku dengan beribu pertanyaan, dan aku hanya bisa terus diam sambil menahan sakitnya cengkraman eratmu di kedua lenganku. Diamku ternyata membuat nada bicaramu meninggi, menandakan amarahmu mulai tak tertahankan.


Sudah saatnya untuk jujur padamu sebelum kamu semakin geram dan menganiaya aku. Aku takut, takut kamu menganiaya aku seperti yang selalu terjadi setiap kali kita terlibat dalam pertengkaran hebat saat kita sedang silang pendapat. Ketakutan itu yang akhirnya menguatkan aku untuk mengucap kebenaran. Walau aku yakin kebenaran itu pasti akan sangat memilukan hatimu, tapi aku tak punya pilihan lain.


“ Dia sudah tiada . . ”


Suasana menjadi amat hening. Kita mematung, sama sekali tidak bergeming.


Beberapa saat kemudian wajahmu mulai memerah, dan tangismupun pecah.


Aku tahu hatimu bersimbah darah karna tak sanggup menanggung pedihnya kehilangan. Aku tahu itu. Aku tahu dengan sangat jelas, akupun pernah merasakannya. Merasakannya sendiri, tanpamu.


” Maaf ” kata itu mengalir begitu saja dari bibirku saat menatap banjir di pelupuk matamu.


” Maaf bukannya aku tak mau, tapi aku tak mampu. . Sungguh, aku tak mampu, dayaku berbatas dan batas itu sudah mencapai limitnya saat kamu belum kembali ke sisiku. Saat itu kamu tak ada untuk membantuku, jadi aku terpaksa membunuhnya. ” hanya itu penjelasan yang mampu kuberikan padamu.


Sepuluh menit berlalu menemani kita yang membisu.


Lalu kuputuskan untuk meninggalkanmu bersama keterpurukanmu yang tak lagi mampu merengkuh aku dalam pelukmu.


________________


Maafkan aku, aku bahkan tak mungkin melahirkan dia yang baru karna aku tahu aku tak akan pernah mampu menjaganya untukmu. Waktu telah membuktikan ketidaksanggupanku melalui sekian hari merawatnya seorang diri. Aku takkan pernah siap menghidupinya jika suatu hari kamu pergi lagi, walau aku yakin kamu pasti akan kembali, seperti yang terjadi hari ini. Aku yakin, bahkan sangat yakin, karna ini bukanlah yang pertama kalinya, siklus ini sudah berulang tiga kali. Aku berusaha menerima kepergianmu yang keempat, aku benar-benar berjuang, tapi maaf karna ternyata rasaku mati di tengah perjuanganku. Rasaku mati, aku membunuhnya. Aku terpaksa membunuhnya karna aku tak ingin keberadaannya membuat aku menerimamu kembali.


Saat aku menguburnya bersama cita-cita kita, matanya terpejam dan bibirnya melukiskan senyum yang termanis, karna hatiku telah ikhlas memaafkan empat kali perselingkuhanmu. Mulai sekarang, tak perlu kamu membuang waktu untuk berusaha menghidupkannya kembali, dia telah terbaring dengan tenang untuk selamanya,

s e l a m a n y a.


Kamu boleh menganggap aku kalah. Tapi aku tidak kalah, aku hanya menyerah untuk bertahan melihat kamu bersama yang lain, aku tak sanggup lagi bertahan setelah sekian kali melihat peranku dimainkan oleh ‘aku’-mu yang lain.



Jangan pernah lagi mempertanyakan keberadaannya padaku, dia sudah mati, aku yang membunuhnya. Dia tidak akan pernah kembali, aku sudah menguburnya di tempat pertama kali kita mengenalkan cinta padanya.
Selengkapnya...
0

HUTANG DAN HUJAN

Terpisah oleh beberapa ratus meter udara yang disebut manusia sebagai langit.
Terpisah oleh kalor yang mengangkatnya ke atas sebelum bisa jatuh ke tanah.
Terpisah oleh 3-7 hari yang panjang.
Terpisah oleh huruf T dan J.

Hutan besar dan lebat. Gagah, kokoh, tak terkalahkan. Tapi siapa ia tanpa hujan? Pepohonan di perutnya bisa mati. Kebakaran melebar sampai ke wilayah sebelah.

Pikir hutan, ketika titik-titik hujan berlomba dulu-duluan sampai badanku, itu adalah saat-saat termenyenangkan. Balap, balap, susul terus sampai kita bisa bertemu.

Hutan butuh hujan.

BY:
Haries Budjana
Selengkapnya...
0

TENTANG SAHABAT

Huruf dan kata menjadi singgasananya
Kalimat dan bahasa memabukkannya
Dia yang jatuh hati hanya pada yang tercendikia
Pada warna putih yang jujur dan abadi
 Dia yang selalu tegak menjulang
Bicara dengan lantang
Pikirnya yang selalu bisa membungkammu terpana
Dia yang diirikan ribuan wanita tanpa pernah disadarinya
Hanya karena dia ada
Dan bersedia membagi harinya,
Sepotong kecil dari hidupnya
Hidupku menjadi lebih berwarna
Begitulah ia dimataku

`Haries Budjana ~


Selengkapnya...
0

KU INGIN HIDUP SERIBU TAHUN LAGI

Dan kematian adalah satu-satunya yang harus kuajak berdamai saat ini. Kuredam gejolak demi kesabaran, demi merancang benteng terakhir untuk saat ketika harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga nanti.
Selengkapnya...
0

RENUNGAN KEMATIAN

Aku berfikir tentang kematian sejenak terdiam
Dan tak lama kemudian mulai tenggelam
Tenggelam dalam kelam malam yang kian menghitam
Menghitam hingga muram pun menjadi begitu buram

Mulutku bungkam
Memandangi langit yang penuh lebam
Diam,dan kali ini nyaris temaram

Kematian,Lagi-lagi aku diam...

Aku pernah merasakan ketakutan itu
kutakutkan kalau ia datang dan menarik paksa lenganku

Tapi setelah bertahun menjalani kehidupan
Semua ketakutan itu sirna
Direnggut oleh sang pembuka takbir kelahiran
Dan seketika semua menjadi berbeda

***

Kutuangkan cairan pikirku ke dalam sebuah cerita...

BY:
Haries Budjana

Selengkapnya...
0

PENGHIANAT

Aku merasakan mati di setiap ciuman.
Setiap matahari terbenam tampaknya menjadi hidup terakhir untukku.
Aku sedang mabuk pada air matamu.
Setiap kali kita bersentuhan ku merasa lebih dekat ke surga.

Tapi pada setiap matahari terbit cintaku terkhianati.
Kini aku bersembunyi di parit hitam.
Sementara musim panas terbunuh oleh musim gugur.
Kematian melayani anggur untuk pecinta.

Aku tahu bahwa kau takut,dan aku tahu kau sudah kehabisan kepercayaan.
Kau hanya berharap aku sudah mati.
Sebab dalam keceriaanmu,tersimpan kemurkaan dariku.

Aku tahu itu dan aku merasakan semua itu.
Semua ini seperti kutukan,Aku hanya dapat bernapas memudar.
Dan berlari hanya untuk tertangkap.

Aku jatuh untuk aib
Aku diperbudak tinta penghianatan,dan dengan lembut diperkosa oleh cahaya siang.

Sumber;

http://renungan1jiwa.blogspot.com
Selengkapnya...
 
RENUNGAN JIWA © Copyright 2013 | Design By Haries Budjana |